Malang, – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mencatat penurunan signifikan angka anak tidak sekolah (ATS) sepanjang tahun 2025. Dari semula lebih dari 5.655 anak, kini jumlahnya menyusut menjadi sekitar 1.700-an anak.
Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana, menjelaskan bahwa penurunan tersebut merupakan hasil dari penanganan intensif yang dilakukan selama setahun terakhir. Selain itu, perubahan status sebagian anak juga memengaruhi data ATS.
“Sekarang kami masih berupaya menangani sekitar 1.700-an anak. Itu karena memang sudah banyak yang bekerja, sudah menikah, bahkan sudah pindah dari Kota Malang,” kata dia, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, selama 2025 pihaknya aktif melakukan pendataan ulang, pendampingan, serta fasilitasi pengembalian anak ke jalur pendidikan formal maupun nonformal.
Program kejar paket dan pendidikan kesetaraan menjadi salah satu opsi yang ditawarkan bagi anak-anak yang masih memungkinkan untuk kembali bersekolah.
“Sebagian anak yang sebelumnya tercatat sebagai ATS kini tidak lagi masuk dalam kategori tersebut karena telah bekerja atau menikah, sementara sebagian lainnya tercatat pindah domisili ke luar wilayah Kota Malang,” jelasnya.
Meski angka ATS menurun drastis, Disdikbud Kota Malang menegaskan upaya penanganan akan terus dilanjutkan. Fokus utama saat ini adalah menjangkau sisa anak yang masih berpotensi kembali mengakses pendidikan sesuai kondisi masing-masing.
“Kami akan terus berupaya agar angka ini bisa ditekan lagi, dengan pendekatan yang lebih personal dan kolaborasi lintas sektor,” imbuhnya.
Tinggalkan Balasan