Jember, – Meski pembangunan fisik Program Optimasi Lahan (Oplah) di Kecamatan Bangsalsari telah rampung, program tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal itu lantaran sarana penyedot dan pengaliran air belum tersedia di sejumlah lokasi penerima program.
Temuan tersebut terungkap saat Komisi B DPRD Jember melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa desa penerima Oplah, yakni Desa Banjarsari, Tisnogambar, dan Tugusari.
Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, mengatakan di Desa Tisnogambar pembangunan fisik telah selesai, namun belum dilengkapi dengan fasilitas penunjang utama berupa alat penyedot air. Akibatnya, lahan pertanian yang menjadi sasaran program belum bisa dialiri air.
“Fisiknya sudah selesai, tapi sarana penyedot dan pengaliran airnya belum ada. Jadi belum bisa dimanfaatkan oleh petani,” kata dia, Kamis (5/2/2026).
Selain itu, di Desa Banjarsari, Komisi B juga meragukan kapasitas bak penampungan air yang diklaim mampu mengairi sekitar 19 hektare sawah. Candra menyebut, meski saat ini musim hujan dengan debit air relatif tinggi, volume air dalam penampungan masih belum memadai.
“Hari ini saja musim hujan, debit air tinggi, tapi penampungannya masih sedikit. Kami ragu bisa mengairi 19 hektare sawah,” katanya.
Menindaklanjuti temuan tersebut, DPRD Jember berencana menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan menghadirkan petani serta Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Jember.
RDP ini dimaksudkan untuk meminta kejelasan terkait perencanaan, penganggaran, serta efektivitas program Oplah.
“Masyarakat meminta keterbukaan informasi tentang rancangan anggaran biaya dan sejauh mana program ini benar-benar bisa mengoptimalkan lahan pertanian,” katanya.
Tinggalkan Balasan