Lumajang, – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Resort Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, masih berlanjut.
Hingga 1 September 2026, luas kawasan yang terbakar berdasarkan data sementara mencapai sekitar 3.072 hektare.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan penanganan karhutla masih dilakukan melalui pemadaman, pembasahan, serta pemantauan terhadap titik api yang berpotensi kembali muncul.
“Pada Kamis, 3 September 2026, lima personel BPBD Lumajang tiba di TNBTS Resort Ranupane sekitar pukul 10.00 WIB,” katanya, Jumat (4/9/2026).
Tim kemudian berkoordinasi dengan pihak TNBTS, relawan, dan unsur terkait sebelum bergerak menuju area antara pintu pendakian hingga Pos 2 jalur pendakian Ranu Kumbolo.
“Sekitar pukul 11.00 WIB, tim gabungan tiba di sekitar Pos 1. Petugas melakukan pembasahan menggunakan gepyok, jet shooter, dan blower,” jelasnya.
Namun, sekitar pukul 12.20 WIB, dari Kantor Resort Ranupane masih terlihat titik api dan kepulan asap di sekitar Pos 1 hingga Pos 2.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Lumajang kemudian melakukan patroli dan pemantauan terhadap titik api baru pada pukul 13.45 hingga 15.10 WIB. “Penanganan juga dilakukan di wilayah terdampak sekaligus melaporkan kondisi terkini dari lokasi,” ungkapnya.
Selain pemadaman secara manual, penanganan karhutla juga dilakukan melalui water bombing menggunakan Helikopter PK-DAP milik BPBD Provinsi Jawa Timur.
“Operasi water bombing dilaksanakan dari Lapangan Ranupane mulai pukul 07.56 WIB,” tuturnya.
Helikopter kemudian melakukan penyiraman dari udara ke area terdampak kebakaran.
“Dalam operasi tersebut, helikopter melaksanakan 35 kali rit dengan total sekitar 35.000 liter air yang dijatuhkan pada area terdampak karhutla,” ucap dia.
Namun, operasi water bombing dihentikan pada pukul 12.00 WIB. Kondisi cuaca berupa kabut dan angin kencang di sekitar Gunung Semeru menjadi kendala dalam operasi pemadaman melalui udara.
Setelah operasi dihentikan, helikopter kembali menuju Bandara Abd Saleh, Malang. Meski water bombing dihentikan, penanganan dari darat tetap dilakukan. Tim gabungan melanjutkan pembasahan dan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.
Berdasarkan data sementara hingga 1 September 2026, luasan kawasan yang terbakar di wilayah TNBTS mencapai sekitar 3.072 hektare.
Kawasan terdampak meliputi Dingklik, Pacis Bincil, Kedaluh, Penanjakan, Argowulan, Jembatan Kaca, Bantengan, Watangan, Jantur, B29, Ledok Tirem Ranupane, serta Ranu Kumbolo dan sekitarnya.
Tinggalkan Balasan