Ketua KKN Sidorejo: Penarikan Massal Bukan Solusi, Lebih Baik Perkuat Kolaborasi dengan Desa - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan Jalan Baru Pasrujambe Buka Akses Ekonomi dan Percepat Pertumbuhan Desa

Pendidikan · 12 Agu 2025 16:13 WIB ·

Ketua KKN Sidorejo: Penarikan Massal Bukan Solusi, Lebih Baik Perkuat Kolaborasi dengan Desa


 Ketua KKN Sidorejo: Penarikan Massal Bukan Solusi, Lebih Baik Perkuat Kolaborasi dengan Desa Perbesar

Lumajang, – Keputusan sejumlah perguruan tinggi yang menarik ribuan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari desa-desa di Kabupaten Lumajang akibat maraknya kasus pencurian sepeda motor (curanmor) menuai berbagai tanggapan.

Koordinator Desa KKN di Desa Sidorejo, Kecamatan Rowokangkung, Juanda Surya Aditya, menyayangkan langkah tersebut dan menilai penarikan massal bukanlah solusi yang ideal.

“Menurut saya, lebih baik saling berkolaborasi dengan desa. Tidak harus melakukan penarikan seperti itu. Masih ada solusi lain yang bisa ditempuh,” kata Juanda saat dikonfirmasi melalui sambungan teleponnya, Selasa (12/8/25).

Baca juga: Polda Jatim Kerahkan Tim Jatanras Buru Curanmor di Lumajang

Juanda merupakan ketua kelompok KKN dari Sekolah Tinggi Islam Belambangan (STIB), yang saat ini masih aktif melaksanakan program KKN di Desa Sidorejo dan Nogosari.

Ia menegaskan, pihaknya tetap menjalankan kegiatan sesuai rencana, dengan memperkuat sistem keamanan bekerja sama dengan pihak desa.

“Salah satu langkah antisipasi kami adalah membentuk tim patroli malam. Mahasiswa dijadwal bergantian bersama perangkat desa, terdiri dari dua orang linmas dan dua perangkat desa,” ujarnya.

Baca juga: Ketika Desa Lain Ditinggalkan, Argosari Jadi Contoh Lokasi KKN yang Aman dan Nyaman

“Tujuannya untuk menjaga keamanan lingkungan dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Juanda menjelaskan, total ada dua kelompok mahasiswa dari STIB yang tersebar di dua desa, masing-masing beranggotakan 27 dan 28 mahasiswa.

Mereka tetap menjalankan program pemberdayaan masyarakat dengan penuh komitmen, meski berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya kondusif.

“Dari kampus juga ada dukungan. Kami diminta menjaga sinergi dengan pihak desa dan tetap waspada. Jadi tidak dilepas begitu saja,” tambahnya.

Sementara itu, kasus curanmor yang menimpa mahasiswa KKN di desa lain seperti Alun-Alun dan Tempeh memang memicu kekhawatiran banyak pihak.

Namun Juanda menilai, selama komunikasi dan kerja sama dengan warga berjalan baik, potensi gangguan bisa diminimalkan.

“Kami tidak ingin program ini terhenti begitu saja. Banyak kegiatan yang sudah dirancang dan sudah mulai memberikan dampak ke masyarakat. Maka itu, langkah pencegahan yang terstruktur jauh lebih bermanfaat dibanding langsung menarik mahasiswa dari lokasi,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 180 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Akses Masih Panas dan Berlumpur, Guru tak Bisa Menjangkau 46 Siswa Terdampak Lahar Semeru

10 Desember 2025 - 18:06 WIB

Pemkab Lumajang Hentikan Pembangunan Sekolah di Zona Merah

29 November 2025 - 13:34 WIB

Pendidikan Jadi Prioritas Pemkab Lumajang dalam Rehabilitasi Sosial Pascaaerupsi

27 November 2025 - 07:04 WIB

Tak Cukup Tunggu Siswa Datang, Pemkab Lumajang Jemput Bola ke Desa-Desa

31 Oktober 2025 - 09:58 WIB

Bupati Lumajang Gerakkan Program Kejar Paket untuk 48 Ribu Warga Tak Tamat SD

31 Oktober 2025 - 09:51 WIB

67 Persen Warga Lumajang Belum Tamat SMP, Tantangan Serius Dunia Pendidikan

30 Oktober 2025 - 12:33 WIB

Trending di Pendidikan