Karakter Dibangun dari Kebiasaan, Bukan Sekadar Program
Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan bahwa sekolah harus membangun karakter siswa melalui kebiasaan harian. Karena itu, pendekatan program semata tidak lagi cukup.
Penegasan ini muncul dalam Lokakarya Refleksi Penguatan Kepemimpinan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama INOVASI di Aston Inn Lumajang, 21–22 April 2026.
Forum ini mengajak pemimpin sekolah untuk menyelaraskan kebijakan dengan praktik nyata. Selain itu, peserta juga mengevaluasi sejauh mana nilai karakter sudah hadir dalam keseharian di sekolah.
Pelaksana Tugas Kepala Dindikbud Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, menekankan bahwa tantangan utama terletak pada implementasi.
“Penguatan karakter harus hadir dalam praktik sehari-hari, mulai dari pengelolaan sekolah hingga interaksi antarwarga,” ujarnya.
Keteladanan dan Budaya Sekolah Jadi Kunci
Ia menegaskan bahwa siswa belajar dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, sekolah harus menghadirkan keteladanan dan konsistensi dalam setiap aktivitas.
“Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, budaya sekolah harus mencerminkan nilai positif,” imbuhnya.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah mendorong peran kepala sekolah dan pengawas sebagai penggerak utama. Kepemimpinan yang reflektif dinilai mampu membentuk sistem yang konsisten.
Sebanyak 45 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan pengawas terlibat aktif dalam diskusi. Mereka saling berbagi pengalaman dan praktik baik.
Selain itu, peserta membahas berbagai contoh konkret seperti disiplin, komunikasi positif, dan budaya saling menghargai.
Fokus pada Perubahan Nyata di Sekolah
Pada tahap akhir, setiap sekolah menyusun rencana tindak lanjut berbasis praktik. Dengan demikian, perubahan tidak berhenti pada konsep, tetapi langsung diterapkan.
Rencana tersebut akan diuji dan dievaluasi secara berkala. Langkah ini memastikan penguatan karakter berjalan konsisten.
Pendekatan ini menunjukkan perubahan strategi. Pemerintah kini mendorong pembentukan ekosistem sekolah yang mendukung karakter, bukan sekadar menambah program.
Akhirnya, Lumajang mengarahkan pendidikan tidak hanya pada capaian akademik. Lebih dari itu, sekolah juga membangun nilai dan perilaku sebagai fondasi pembangunan manusia.
Tinggalkan Balasan