Puisi “Tiada Luka Abadi” Karya Rayyan Aulia R: Sebuah Karya Sastra yang Menggugat Ketidakadilan dan Keserakahan - Laman 2 dari 3 - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Pendidikan · 9 Jan 2024 18:17 WIB ·

Puisi “Tiada Luka Abadi” Karya Rayyan Aulia R: Sebuah Karya Sastra yang Menggugat Ketidakadilan dan Keserakahan


 Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta Perbesar

Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta

Bait pertama: Penulis menyatakan bahwa ia tidak merasa tenang dengan situasi dunia yang belum senang, yaitu dunia yang masih mengalami konflik, ketimpangan, dan ketidakadilan.

Penulis merasa tidak bisa diam dan hanya menjadi penonton, sementara keadilan yang seharusnya ditegakkan telah dibungkam oleh pihak yang berkuasa, yang mungkin memiliki kepentingan tertentu atau tidak peduli dengan nasib orang lain.

Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta

Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta

Bait kedua: Penulis menyatakan bahwa ini bukan masalah pribadi, yang berarti penulis tidak memiliki motif atau agenda terselubung dalam menulis puisi ini. Penulis juga menyatakan bahwa ini bukan masalah mengapa, yang berarti penulis tidak mencari alasan atau pembenaran untuk situasi dunia yang buruk.

Penulis menyatakan bahwa ini adalah masalah kita semua, yang berarti penulis mengajak pembaca untuk merasakan dan memperhatikan kondisi dunia yang mempengaruhi kita semua. Penulis juga menyebutkan luka lama dendam nyata, yang berarti penulis mengungkapkan bahwa banyak orang yang telah terluka oleh ketidakadilan dan keserakahan, dan masih menyimpan dendam yang nyata, yang mungkin bisa memicu konflik atau kekerasan lebih lanjut.

Fakta Tentang Kenaikan Gaji Pensiun 2024

Bait ketiga: Penulis menanyakan kepada pihak yang berkuasa, apakah mereka berpikir tentang akibat dari tindakan mereka. Penulis menyatakan bahwa kita sekarang merugi, yang berarti penulis menunjukkan bahwa banyak orang yang mengalami kerugian, baik secara materi, moral, maupun spiritual, akibat dari ketidakadilan dan keserakahan yang terjadi.

Penulis menyalahkan ego seorang, yang berarti penulis menunjuk kepada orang yang berkuasa, yang mungkin memiliki ego yang tinggi dan tidak mau mendengarkan atau menghormati orang lain. Penulis juga menyebutkan nafsu liar itu buta, yang berarti penulis mengkritik nafsu atau ambisi yang berlebihan dari orang yang berkuasa, yang membuat mereka tidak melihat atau mengabaikan dampak negatif dari tindakan mereka.

Penulis juga menyatakan bahwa didalamnya kau bertahta, yang berarti penulis mengejek orang yang berkuasa, yang mungkin merasa dirinya sebagai raja atau penguasa yang tidak bisa disentuh atau dikritik.

Artikel ini telah dibaca 234 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sedekah Desa Wonokerto Lumajang Hadirkan Jaran Kencak hingga Bantengan dan 5.000 Porsi Tape Ketan

16 Agustus 2026 - 16:07 WIB

Tak Sekadar Buka Rekening, Bupati Lumajang Ingin Menabung Jadi Budaya Pelajar

11 Agustus 2026 - 15:48 WIB

Kuota Beasiswa Lumajang Direncanakan Maksimal 100 Mahasiswa

30 Juli 2026 - 15:53 WIB

20 Mahasiswa Gugur, Pemkab Lumajang Salurkan Beasiswa kepada 114 Penerima

30 Juli 2026 - 11:52 WIB

Bupati Lumajang Wanti-wanti Sekolah Cegah Narkoba, Miras, dan Bullying

27 Juli 2026 - 11:29 WIB

Pemkab Lumajang Siapkan Beasiswa Rp6 Juta per Semester, Tambah Kuota 100 Mahasiswa

16 Juli 2026 - 10:33 WIB

Trending di Pendidikan