Lumajang, – Sumur yang mengering selama musim kemarau membuat warga Dusun Sebrang, Desa Bedayu Talang, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Ketika bantuan belum tiba, sebagian warga terpaksa membeli air dari pedagang keliling dengan harga yang tidak murah.
Sulastri, salah seorang warga terdampak, mengatakan sumber air di sumur miliknya telah mengering total.
Kondisi itu membuat ia dan warga lainnya kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga selama empat bulan terakhir.
“Jadi susah, memang sudah kering dan air dari pet memang sudah tidak ada,” katanya, Minggu (11/10/2026).
Menurut Sulastri, air yang dibeli dari pedagang keliling dibanderol Rp 160 ribu untuk dua tungku air. Namun, ukuran tungku tersebut tidak besar sehingga air yang diperoleh tetap harus digunakan secara hemat.
“Kalau beli itu harganya Rp 160 ribu, untuk dua tungku air. Tapi tungkunya tidak besar,” katanya.
Di tengah keterbatasan itu, warga harus menentukan kebutuhan mana yang lebih dahulu dipenuhi. Air bersih diprioritaskan untuk memasak dan minum, sementara kebutuhan lain seperti mencuci pakaian menjadi lebih sulit dilakukan.
Sulastri mengaku hanya mandi sekali sehari karena harus menghemat persediaan air. Untuk mencuci pakaian, ia bahkan harus mengendarai sepeda motor menuju Desa Klanting, Kecamatan Sukodono, yang masih memiliki sumber air.
“Kalau mandi cuma sehari sekali, karena krisis air. Kecuali kalau wudhu, ya pakai air ini wes,” ucapnya.
Pada Kamis (8/10/2026), armada tangki air bersih milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang tiba di lokasi penyaluran di Dusun Sebrang. Warga berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk mendapatkan pasokan air.
Berdasarkan data BPBD Lumajang, sebanyak 384 jiwa di Desa Bedayu Talang terdampak langsung oleh kelangkaan air bersih. Selama sumur mengering, pasokan bantuan menjadi salah satu tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Namun, persoalan kekeringan tidak berhenti pada kebutuhan rumah tangga. Sulastri mengatakan tanaman manggis, pisang, dan durian milik warga turut terdampak karena kekurangan air.
“Sekarang kan musim manggis dan duren, itu tidak jadi (buahnya). Karena sumber airnya sudah tidak ada,” tuturnya.
Krisis air bersih di Kabupaten Lumajang meluas ke sejumlah wilayah. Data BPBD mencatat 19.771 warga dari 6.064 kepala keluarga yang tersebar di 18 desa terdampak kekeringan.
Wilayah terdampak meliputi enam kecamatan, yakni Ranuyoso, Klakah, Padang, Gucialit, Senduro, dan Kedungjajang.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho mengatakan pemerintah daerah telah mengajukan permintaan bantuan air bersih kepada pemerintah provinsi.
“Berkaitan waktu musim hujan cukup lama, Bupati Lumajang telah bersurat ke Gubernur Jawa Timur berkaitan permintaan bantuan air bersih,” kata Isnugroho.
Tinggalkan Balasan