Lumajang, – Kematian MI (16), siswa SMP PGRI Sukodono, Kabupaten Lumajang, membuka fakta lain di balik penyelidikan dugaan penganiayaan antarsiswa yang kini ditangani kepolisian.
Korban, yang meninggal dunia sekitar satu bulan setelah diduga dipukul teman sekelasnya, dikenal sebagai pribadi pendiam, tidak pernah bermasalah di sekolah, serta aktif mengikuti kegiatan keagamaan.
Kepala SMP PGRI Sukodono, Yunita Wahyuningsih, mengatakan selama tiga tahun menempuh pendidikan di sekolah tersebut, MI dikenal memiliki perilaku baik dan mampu bergaul dengan teman-temannya.
“Dia pintar mengaji, menonjol dalam hal keagamaan,” kata Yunita.
Keterangan serupa disampaikan kakak korban, Ahmad Dani. Menurut dia, adiknya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sepulang sekolah dan rutin mengikuti kegiatan mengaji.
Di sisi lain, polisi mengungkap kronologi dugaan penganiayaan yang diduga menjadi awal dari memburuknya kondisi korban.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lumajang, Rahmat, mengatakan peristiwa itu bermula ketika korban beberapa kali memindahkan kursi dan meja milik teman sekelasnya yang berinisial S. Akibat kejadian tersebut, pelaku sempat mendapat teguran dari guru.
“Jadi dari rentetan kejadian itu tersangka jengkel ke korban dan langsung dipukuli,” ujar Rahmat.
Menurut Rahmat, pelaku diduga memukul korban sebanyak tiga kali. Salah satu pukulan menyebabkan kepala korban membentur dinding ruang kelas. Akibatnya, korban mengalami luka pada bagian bibir dan mengeluhkan sakit kepala setelah kejadian.
Sekitar satu bulan kemudian, kondisi korban memburuk hingga harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr Haryoto Lumajang. MI akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan.
Rahmat menegaskan perkara tersebut tidak dikategorikan sebagai perundungan atau bullying. Penyidik menilai kasus itu merupakan tindak kekerasan terhadap anak.
“Ini bukan bullying, tapi kekerasan terhadap anak,” kata Rahmat.
Tinggalkan Balasan