Soal Pisang Mas Kirana, HKTI Lumajang Akui Minim Data - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 21 Apr 2026 09:28 WIB ·

Soal Pisang Mas Kirana, HKTI Lumajang Akui Minim Data


 Soal Pisang Mas Kirana, HKTI Lumajang Akui Minim Data Perbesar

Lumajang, – Di tengah geliat komoditas pisang emas kirana yang kian populer sebagai produk hortikultura unggulan, persoalan mendasar di tingkat petani belum juga terurai.

Ketidakseimbangan akses pasar dan standar kualitas yang belum merata masih menjadi pekerjaan rumah yang berulang, tanpa penyelesaian yang jelas.

Ketua HKTI Lumajang, Jamaluddin, mengakui pihaknya belum memiliki data yang cukup untuk memotret kondisi riil di lapangan.

“Belum, ini hanya argumen teknis. Di antaranya harus ada konsolidasi volume,” katanya, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, pihaknya masih dalam tahap koordinasi dengan berbagai pihak untuk memetakan persoalan yang ada.

Jamaluddin menyebut, HKTI Lumajang tengah menyusun kerangka solusi. Pertama, mendesak reaktivasi pendampingan teknis melalui penyuluh pertanian guna mendorong standardisasi kualitas atau grading agar sesuai dengan kebutuhan pasar modern.

Kedua, mendorong korporatisasi petani melalui pembentukan koperasi atau badan usaha milik petani untuk memperkuat posisi tawar. Ketiga, mendorong hilirisasi sebagai strategi jangka panjang agar petani tidak sepenuhnya bergantung pada pasar buah segar.
Namun, kerangka tersebut masih sebatas rencana. Jamaluddin sendiri mengakui, pendekatan yang disampaikan baru merujuk pada hasil penelusuran pihak lain.

“Saya cuma memberikan kerangka sesuai hasil berita panjenengan dan belum punya data sesuai apa yang jenengan naikkan,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, hasil panen yang melimpah semestinya menjadi kabar baik bagi petani. Namun di Desa Salak, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, kondisi itu justru berbalik menjadi beban.

Di kebun-kebun warga, tandan pisang menggantung lebat. Produksi meningkat, tetapi pasar tak kunjung datang.
Sofyan, salah satu petani setempat, mengaku kesulitan menjual hasil panennya dalam jumlah besar.

“Terlalu banyak barang, tapi tidak ada pembeli yang berani menampung,” katanya, Senin (20/4/2026).

Ia menyebut, dalam satu kali panen, pisang agung bisa mencapai 40 hingga 50 tandan. Sementara pisang mas berkisar 25-30 tandan dan pisang nangka sekitar 30-35 tandan.

Jumlah itu, menurut dia, tidak sebanding dengan kemampuan pasar lokal dalam menyerap hasil produksi. Harga di tingkat petani pun tidak bergerak.

Sementara itu, Ketua P3NA Jawa Timur, Ishak Subagio, menyoroti lemahnya pengawasan terhadap hubungan antara petani dan offtaker. Ia mempertanyakan apakah kontrak kemitraan benar-benar sampai dan dipahami oleh petani di tingkat bawah.

“Harus ada kejelasan kontrak, berapa harga, bagaimana kualitas yang diminta, dan jaminan pembelian. Kalau itu tidak ada, petani hanya menanam berdasarkan spekulasi,” kata Ishak, Senin (20/4/2026).

Menurut dia, kemitraan seharusnya tidak berhenti pada pembentukan paguyuban atau kelompok tani semata. Tanpa dokumen perjanjian yang transparan dan mengikat, posisi tawar petani tetap lemah.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendidikan Vokasi Jadi Fokus Kadin Lumajang Hadapi Tantangan Industri

21 April 2026 - 18:05 WIB

Kadin Jatim Dorong Pemetaan Kebutuhan Tenaga Kerja Lima Tahun ke Depan

21 April 2026 - 17:56 WIB

Konsolidasi Kadin Lumajang Didorong Perkuat Daya Saing Daerah

21 April 2026 - 17:13 WIB

Muskab VII 2026, Agus Setiawan Lanjutkan Kepemimpinan Kadin Lumajang

21 April 2026 - 16:44 WIB

Program Ada, Pendampingan Nihil, 283 Hektare Pisang Tanpa Arah

20 April 2026 - 14:31 WIB

Panen Melimpah, Pembeli Menghilang, Ironi Pisang di Desa Salak

20 April 2026 - 14:13 WIB

Trending di Daerah