Tompokerso Cup dan Genduren, Cara PDIP Lumajang Merawat Sepak Bola Sekaligus Tradisi Desa - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Politik · 13 Mei 2026 17:14 WIB ·

Tompokerso Cup dan Genduren, Cara PDIP Lumajang Merawat Sepak Bola Sekaligus Tradisi Desa


 Tompokerso Cup dan Genduren, Cara PDIP Lumajang Merawat Sepak Bola Sekaligus Tradisi Desa Perbesar

Lumajang, – Riuh sepak bola di pedesaan rupanya tak melulu tentang gol, sorak penonton, atau perebutan piala.

Di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, sebuah turnamen sepak bola justru dibuka dengan ritual sederhana yang sudah lama hidup di tengah masyarakat, genduren atau slametan bersama warga.

Tradisi itu kembali digelar menjelang pembukaan Tompokerso Cup, turnamen sepak bola antar-RW yang menjadi bagian dari rangkaian menyambut Bulan Bung Karno pada Juni mendatang. Mereka duduk lesehan di tanpa tenda, berdoa bersama sebelum pertandingan dimulai.

Di tengah modernisasi hiburan masyarakat desa, tradisi semacam itu masih dipertahankan. Bagi warga Senduro, sepak bola bukan sekadar pertandingan olahraga, melainkan ruang berkumpul yang menyatukan masyarakat lintas usia.

Ketua DPC PDI Perjuangan Lumajang, Supratman, mengatakan kegiatan slametan sengaja dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya yang sejak lama hidup di tengah masyarakat desa.

“Besok dimulai, sekarang slametan dalam rangka melestarikan budaya. Setiap ada kegiatan diawali genduren,” kata Supratman, Rabu (13/5/2026).

Menurut dia, budaya genduren tidak hanya dimaknai sebagai doa bersama agar kegiatan berjalan lancar. Tradisi itu juga menjadi simbol kebersamaan warga sebelum memasuki sebuah kegiatan besar.

Di sejumlah desa di Lumajang, slametan masih menjadi bagian penting kehidupan sosial masyarakat.

Tradisi tersebut biasanya dilakukan menjelang panen, pembangunan rumah, hajatan keluarga, hingga kegiatan kemasyarakatan lainnya. Warga berkumpul, membaca doa, lalu makan bersama sebagai bentuk rasa syukur dan harapan akan keselamatan.

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPMD Lumajang Ajukan Anggaran Pilkades untuk 2027, Tahapan Dimulai Enam Bulan Sebelumnya

11 Agustus 2026 - 10:37 WIB

Demokrat Lumajang Akui HUT Partai Jadi Momentum Panaskan Mesin Politik

7 Agustus 2026 - 13:15 WIB

Yudha Adji Kusuma: Kudatuli Menjadi Titik Balik Lahirnya Demokrasi Indonesia

27 Juli 2026 - 09:59 WIB

Supratman: Silaturahmi Jadi Ruang Satukan Visi Kader PDI Perjuangan

17 Juli 2026 - 08:51 WIB

Pemkab Lumajang Siapkan Rp 13 Miliar untuk Pilkades Serentak di 158 Desa pada 2027

2 Juli 2026 - 12:54 WIB

Gunung Kerinci, Bung Karno, dan Tafsir Perjalanan Politik di Jalur yang Menanjak

23 Juni 2026 - 10:27 WIB

Trending di Politik