Lumajang, – Perjuangan Ahmad Fatoni dalam menyebarkan syiar Al Quran tak pernah ia jalani seorang diri. Di balik ketekunannya mengajar qiraah, ada sosok istri yang setia mendampingi setiap langkahnya.
Sebagai penyandang tuna netra sejak bayi, Fatoni mengandalkan sang istri untuk mobilitas sehari-hari.
Setiap hari, ia dibonceng menuju berbagai Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) dan pondok pesantren di Kecamatan Pasirian dan Candipuro, Kabupaten Lumajang, tempatnya membimbing para santri.
“Setiap hari dibonceng istri saya ke sana. Di sana saya ngajar qiraah, istri saya nunggu di sebelah saya,” katanya, Selasa (24/2/2026).
Peran sang istri tak hanya sebatas mengantar. Di rumah, ia juga menjadi penyimak setia hafalan Al Quran Fatoni.
Setelah mendengarkan ayat dari alat pemutar suara yang selalu digenggamnya, sang istri membantu menyimak dan mengoreksi agar hafalan tersebut tetap terjaga.
“Setelah saya dengarkan dari tape, istri saya yang nyimak hafalan,” katanya.
Berkat ketekunan dan dukungan keluarga, Fatoni kini membimbing lebih dari 22 lembaga pendidikan Al Quran, baik TPQ maupun pondok pesantren. Rutinitas itu telah ia jalani selama belasan tahun.
Tinggalkan Balasan