Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Ratusan Pemain Mobile Legends dan Free Fire Bersaing dalam Kejurkab E-Sport Lumajang Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara

Daerah · 18 Mar 2026 23:04 WIB ·

Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung


 Tawur Agung Kesango, Upaya Menyucikan Buana Alit dan Buana Agung Perbesar

Lumajang, – Menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Tawur Agung Kesango sebagai bagian penting dalam rangkaian penyucian diri dan alam semesta. Ritual ini dimaknai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia (Buana Alit) dan alam (Buana Agung).

Tawur Agung Kesango dilaksanakan melalui prosesi pecaruan, yakni persembahan yang ditujukan untuk menetralisir unsur-unsur negatif yang diyakini dapat mengganggu keharmonisan kehidupan. Upacara ini umumnya digelar di pura maupun di lingkungan tempat tinggal umat Hindu.

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Budiono, menjelaskan konsep Buana Alit dan Buana Agung merupakan bagian penting dalam ajaran Hindu yang menekankan keseimbangan antara manusia dan alam semesta.

“Tawur Agung Kesango bermakna untuk menyucikan dan membersihkan baik Buana Alit maupun Buana Agung. Ini adalah bentuk keseimbangan agar kehidupan tetap harmonis,” kata dia, Rabu (18/3/2026).

Menurutnya, manusia sebagai bagian dari alam memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselarasan tersebut.

“Melalui upacara ini, umat Hindu diingatkan untuk tidak hanya membersihkan diri secara spiritual, tetapi juga menjaga lingkungan dan hubungan dengan alam,” tambahnya.

Pelaksanaan Tawur Agung Kesango menjadi momentum penting sebelum dilaksanakannya pengerupukan pada malam hari, yang ditandai dengan arak-arakan ogoh-ogoh.

“Jika Tawur Agung Kesango berfokus pada penyucian melalui ritual, maka pengerupukan menjadi simbol penetralisir energi negatif secara visual dan kultural,” kata dia.

Rangkaian ini kemudian dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian, di mana umat Hindu menjalani empat pantangan utama selama 24 jam sebagai bentuk pengendalian diri dan refleksi spiritual.

Artikel ini telah dibaca 43 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Sumberlangsep Kembali Terisolasi akibat Banjir Lahar Lahar Hujan Gunung Semeru

2 November 2026 - 12:30 WIB

Bunda Indah Dorong Pariwisata Lumajang Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Peluang Usaha Warga

31 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Lumajang Raih Wilwatikta Awards 2026, Bunda Indah Jadikan Penghargaan Motivasi Perkuat Ekonomi

31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

Pronojiwo Kembangkan Agrowisata 3 Hektare, Wisatawan Tumpak Sewu Bakal Punya Pilihan Baru

31 Oktober 2026 - 17:25 WIB

Cegah Stunting di Lumajang, Dinkes P2KB Perkuat Peran Posyandu dan Kolaborasi Desa

31 Oktober 2026 - 17:23 WIB

Bunda Indah Salurkan BLT DBHCHT 2026, Sebanyak 4.293 Warga Lumajang Terima Alokasi Rp600 Ribu

31 Oktober 2026 - 17:21 WIB

Trending di Daerah