Lumajang, – Rangkaian Hari Raya Nyepi diawali dengan upacara Melasti, yakni prosesi sakral umat Hindu untuk menyucikan diri dan sarana upacara dengan membawa pratima ke laut yang diyakini sebagai sumber Tirta Amerta Kamandalu.
Melasti menjadi simbol awal perjalanan spiritual menuju Nyepi. Dalam keyakinan umat Hindu, laut bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber kehidupan dan kesucian. Air laut dipercaya memiliki kekuatan untuk membersihkan segala kotoran lahir dan batin, sehingga umat dapat memulai rangkaian Nyepi dalam keadaan suci.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Budiono, menjelaskan prosesi Melasti memiliki makna mendalam sebagai bentuk penyucian menyeluruh, baik terhadap diri manusia maupun sarana keagamaan.
“Melasti dimaknai sebagai penyucian diri dan seluruh alat-alat upacara. Kita bawa ke laut karena laut diyakini sebagai sumber kesucian, tempat Tirta Amerta Kamandalu,” ucap dia, Rabu (18/3/2026).
Setelah Melasti, rangkaian dilanjutkan dengan Tawur Agung Kesange sebagai upaya penyucian alam semesta, serta pengerupukan yang ditandai dengan arak-arakan ogoh-ogoh pada malam hari. Tahapan ini menjadi jembatan menuju puncak Nyepi.
Memasuki Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian selama 24 jam. Empat pantangan tersebut meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).
“Dari riuhnya prosesi Melasti di laut hingga keheningan total saat Nyepi, rangkaian ini mencerminkan perjalanan spiritual umat Hindu dalam membersihkan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan mencapai keseimbangan hidup,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan