Produksi Pisang Lumajang Diuji Serangan Penyakit Ganda yang Kian Meluas - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Daerah · 22 Apr 2026 15:09 WIB ·

Produksi Pisang Lumajang Diuji Serangan Penyakit Ganda yang Kian Meluas


 Produksi Pisang Lumajang Diuji Serangan Penyakit Ganda yang Kian Meluas Perbesar

Lumajang, – Serangan Banana Blood Disease (BDB) menjadi ancaman serius bagi komoditas pisang di Kabupaten Lumajang.

Penyakit yang disebabkan bakteri Ralstonia solanacearum itu dinilai berbahaya karena kerap tidak menunjukkan gejala awal yang jelas pada tanaman induk, sehingga menyulitkan petani dalam melakukan deteksi dini.

Anggota Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Gucialit, Witono, mengatakan BDB memiliki karakter serangan yang berbeda dibandingkan sejumlah penyakit tanaman pisang lainnya.

Pada fase awal, tanaman induk kerap tampak normal dan tetap tumbuh seperti biasa tanpa perubahan mencolok.

“Tanaman induk sering terlihat sehat di awal, sehingga petani merasa tidak ada masalah di kebun,” kata Witono, Rabu (22/4/2026).

Namun, menurut dia, kondisi tersebut justru menjadi salah satu faktor yang membuat BDB sulit dikenali sejak awal.

Sebab, infeksi bakteri berkembang di dalam jaringan tanaman sebelum akhirnya memunculkan gejala yang terlihat secara fisik pada fase pertumbuhan berikutnya.

Witono menjelaskan, gejala yang lebih jelas umumnya baru terlihat pada anakan pisang. Pada fase ini, tanaman mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pertumbuhan seperti kerdil, layu, serta daun yang menguning ketika memasuki usia sekitar dua hingga tiga bulan.

“Pada anakan, gejalanya baru terlihat lebih jelas. Biasanya kerdil, layu, dan daun menguning di usia 2 sampai 3 bulan,” paparnya.

Kondisi tersebut kerap membuat petani terlambat menyadari adanya serangan penyakit di kebun mereka. Akibatnya, penanganan baru dilakukan setelah pertumbuhan tanaman terlanjur terganggu dan tidak lagi optimal.

Witono menegaskan, sifat BDB yang tersembunyi pada fase awal membuat penyakit ini lebih berisiko dibandingkan gangguan lain yang langsung menunjukkan gejala pada daun atau batang.

“Ini yang membuat BDB lebih berbahaya karena terlihat sehat di awal pada tanaman induk,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 54 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Desil Menentukan Nasib Bansos, Pemkab Lumajang Akui Tak Bisa Deteksi Perubahannya

27 Agustus 2026 - 10:54 WIB

Kaki Tak Lagi Utuh, Semangat Tak Pernah Patah: Nanik Menjaga Usaha Warisan Sejak 1946

26 Agustus 2026 - 17:57 WIB

Data Desil 1-5 Dipersoalkan, DPRD Lumajang Dorong Verifikasi Langsung ke Lapangan

26 Agustus 2026 - 16:03 WIB

Mayat Pria Diperkirakan Berusia 58 Tahun Ditemukan di Pantai Pandanwangi Lumajang

26 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Gunung Lemongan hingga Pegunungan Gajah Mungkur Rawan Karhutla, BPBD Lumajang Perkuat Mitigasi

26 Agustus 2026 - 11:42 WIB

Bukit Sentong Lumajang Terbakar Sekitar 1 Hektare, Pendinginan Masih Berlangsung

25 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Trending di Daerah