Lumajang, – Sedekah Desa Wonokerto, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dikemas berbeda tahun ini.
Tradisi warga dipadukan dengan bukit jenggolo Tape Fest 2026 yang menghadirkan berbagai kesenian tradisional dan membagikan 5.000 porsi tape ketan secara gratis.
Puncak kegiatan digelar di kawasan Bukit Jenggolo, Desa Wonokerto, Minggu (16/8/ 2026).
Ribuan warga yang hadir juga berebut hasil bumi yang disedekahkan dalam rangkaian tradisi tersebut.
Kepala Desa Wonokerto Tupin mengatakan rangkaian Sedekah Desa telah dimulai pada Jumat, 14 Agustus 2026, dengan kegiatan khotmil Quran yang digelar di 21 titik di Desa Wonokerto.
“Untuk sedekah desa, masyarakat Wonokerto bersedekah dengan menghadirkan sanak saudaranya. Mereka juga bersedekah dengan memberikan hidangan dan apa pun yang bisa diberikan kepada saudara dan keluarga,” katanya.
Menurutnya, tahun ini pemerintah desa mengambil tema Jenggolo Tape Fest 2026. Tape ketan dipilih sebagai hidangan khas yang dibagikan kepada masyarakat dalam tradisi sedekah desa.
“Yang kita sedekahkan tape ketan sebagai hidangan khas pada saat sedekah desa, sehingga Bapak-Ibu nanti bisa menikmati dan juga bisa dibawa pulang sebagai bentuk berkat,” jelasnya.
Sebanyak 5.000 porsi tape ketan disiapkan secara gratis bagi warga yang hadir. Selain tape ketan, acara tersebut juga diramaikan berbagai kesenian tradisional yang ditampilkan sejumlah dusun.
Kesenian yang ditampilkan antara lain jaran kencak, kuda lumping, bantengan, karapan sapi, serta kesenian khas masyarakat Madura.
Tupin berharap kegiatan yang untuk pertama kalinya dikemas dalam bentuk festival tersebut dapat menjadi agenda tahunan Desa Wonokerto.
“Insyaallah nanti akan kita lanjutkan di tahun-tahun berikutnya dengan berbagai koreksi sehingga akan menjadi daya tarik untuk para pengunjung,” ujarnya.
Selain menjadi lokasi kegiatan budaya, Bukit Jenggolo juga dikembangkan sebagai kawasan agrowisata sekaligus bagian dari program ketahanan pangan Desa Wonokerto.
Tupin mengatakan kawasan tersebut dibangun dengan memanfaatkan dana ketahanan pangan di atas tanah kas desa seluas 21 hektare.
“Kami mengusung tema ketahanan pangan. Di sini ada bantuan dari provinsi yang kita manfaatkan untuk kolam ikan, juga ada pisang emas,” katanya.
Selain pisang emas dan kolam ikan, kawasan tersebut juga berdampingan dengan tanaman tebu yang telah ada sebelumnya.
Pengembangan Bukit Jenggolo ditargetkan turut meningkatkan pendapatan asli desa. Tupin menyebut PADes Wonokerto pada 2025 mencapai Rp97 juta.
Sementara dalam APBDes 2026, pemerintah desa menargetkan pendapatan asli desa dari pengelolaan tanah kas desa dan pemanfaatan kawasan Bukit Jenggolo mencapai Rp300 juta.
“Dalam APBDes 2026 kami menetapkan PADes dari pengelolaan TKD dan memanfaatkan Bukit Jenggolo ini kita anggarkan Rp300 juta,” kata dia.
‘Desa Wonokerto selama ini rutin memenuhi kewajiban pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Ia menyebut desa tersebut hampir setiap tahun melunasi pembayaran PBB lebih awal,” ungkapnya.
Menurut Tupin, keberadaan Bukit Jenggolo mulai dikenal wisatawan dari luar Kabupaten Lumajang. Sejumlah pengunjung bahkan datang dari luar Jawa.
Ia menyebut dalam kegiatan sebelumnya terdapat peserta dari Lampung yang ikut berkemah di kawasan tersebut. Selain itu, wisatawan dari Bali juga datang menggunakan lima kendaraan.
“Alhamdulillah, ada tetangga juga dari Belanda datang ke sini untuk menikmati Bukit Jenggolo,” tutupnya.
Tinggalkan Balasan