Infak Penjual Ketan Lumajang yang Menginspirasi - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Daerah · 7 Sep 2025 04:40 WIB ·

Rp2.000 Sehari yang Mengubah Hidup: Inspirasi Infak Anang, Penjual Ketan Lumajang


 Rp2.000 Sehari yang Mengubah Hidup: Inspirasi Infak Anang, Penjual Ketan Lumajang Perbesar

Lumajang – Dari sebuah gerobak ketan di Tempeh Tengah, lahir sebuah kisah sederhana namun penuh makna. Seorang penjual ketan membuktikan bahwa kebaikan tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari keikhlasan berbagi.

Setiap hari, ia menyisihkan Rp2.000 dari penghasilan yang pas-pasan. Dalam beberapa minggu, terkumpul Rp122.000 yang ia serahkan ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Lumajang. Uniknya, bulan ini saja ia sudah dua kali datang menyetor infak. Konsistensinya membuat banyak orang tertegun, bagaimana seorang pedagang kecil bisa begitu disiplin dalam berbagi.

Ketulusan yang Menyentuh Hati

Momen semakin haru ketika Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), hadir langsung di kantor Baznas saat penyerahan infak. Dengan mata berkaca, ia menyebut ketulusan penjual ketan jauh lebih berharga daripada jumlah nominalnya.

“Ini bukan soal besar kecilnya uang, tetapi tentang keikhlasan dan konsistensi dalam berbagi. Infak seperti ini tidak ternilai harganya,” ujar Bunda Indah, Jumat (5/9/2025).

Bagi Bunda Indah, kisah ini menjadi alarm moral bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial masih hidup di tengah masyarakat. Ia pun mengajak warga Lumajang meneladani sikap mulia sang penjual ketan.

“Kalau seorang penjual ketan bisa menyisihkan rezekinya secara rutin, tak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukan hal yang sama,” tegasnya.

Infak Kecil, Dampak Besar

Baznas Lumajang mencatat, infak kecil namun rutin justru menjadi energi besar. Wakil Ketua I Baznas Lumajang, Moh. Khoyum, menyebut sumbangan semacam ini menjadi fondasi kuat untuk membantu masyarakat.

“Infak kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan berulang kali justru menjadi energi besar. Dari sinilah kami bisa menggerakkan program bantuan untuk yang membutuhkan,” jelasnya.

Dana hasil infak masyarakat digunakan untuk membantu keluarga miskin, mendukung pendidikan anak yatim, hingga menopang kebutuhan lansia yang tidak memiliki penghasilan. Dengan begitu, Rp2.000 sehari dari seorang pedagang ketan berubah menjadi keberkahan yang lebih besar.

UMKM Sebagai Pilar Sosial

Kisah penjual ketan ini membuktikan bahwa pelaku UMKM bukan hanya motor penggerak ekonomi, tetapi juga pilar solidaritas sosial. Meski hidup dari penghasilan harian, mereka mampu memberi contoh nyata tentang keikhlasan berbagi.

Data Baznas RI menyebut potensi zakat di Indonesia mencapai ratusan triliun rupiah, namun baru sebagian kecil yang tergali. Jika semangat penjual ketan Lumajang ditiru jutaan masyarakat, dampaknya bisa signifikan dalam menurunkan angka kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Gerakan Sosial dari Desa

Bagi Lumajang, fenomena ini bisa menjadi energi moral untuk membangun gerakan sosial berbasis desa. Jika setiap pedagang, petani, nelayan, hingga pegawai menyisihkan sedikit penghasilan secara rutin, kas sosial daerah akan semakin kuat menopang kebutuhan warga.

Pemerintah bersama Baznas pun bisa merancang program apresiasi bagi donatur kecil yang konsisten. Bukan untuk mengekspos, tetapi untuk menumbuhkan budaya berbagi yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

Pelajaran dari Gerobak Ketan

Kisah ini menyiratkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada APBD, melainkan juga bisa digerakkan melalui partisipasi masyarakat yang ikhlas. Di tengah dunia digital yang sering menonjolkan kemewahan, cerita sederhana dari gerobak ketan ini menjadi oase yang menyegarkan.

Keberkahan hidup bukan berasal dari seberapa banyak kita menumpuk, tetapi dari seberapa tulus kita memberi. Dari uang receh yang dikumpulkan sabar setiap hari, lahir energi kemanusiaan yang menopang sesama. Lumajang kembali diingatkan bahwa kebesaran sejati bukan milik mereka yang banyak memiliki, melainkan milik mereka yang ikhlas berbagi.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Siswi MTsN Jadi Korban Peluru Nyasar

4 Februari 2026 - 21:35 WIB

Jenazah Korban Banjir Bandang Ditemukan Nelayan di Muara Sungai

4 Februari 2026 - 16:33 WIB

Puluhan Warga Antre Adopsi Bayi yang Dibuang di Lumajang

4 Februari 2026 - 15:50 WIB

Bidan Ceritakan Detik-Detik Kelahiran Bayi yang Dibuang di Lumajang

4 Februari 2026 - 15:40 WIB

Ekonomi Diduga Jadi Alasan Bayi Dibuang di Lumajang

4 Februari 2026 - 15:31 WIB

Bayi Laki-laki Diperkirakan Berusia Dua Hari Ditemukan di Warung Gorengan Senduro

4 Februari 2026 - 10:30 WIB

Trending di Daerah