Antara Sawah dan Ancaman Erupsi, Warga Sumbersari Pilih Bertahan di Lereng Semeru - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Daerah · 4 Des 2025 12:45 WIB ·

Antara Sawah dan Ancaman Erupsi, Warga Sumbersari Pilih Bertahan di Lereng Semeru


 Antara Sawah dan Ancaman Erupsi, Warga Sumbersari Pilih Bertahan di Lereng Semeru Perbesar

Lumajang, – Meskipun Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, masuk dalam zona merah rawan bencana (KRB III), ratusan warga tetap memilih menempati rumah lama mereka di lereng Gunung Semeru.

Keputusan itu diambil karena lahan pertanian menjadi sumber penghidupan utama mereka, sementara hunian tetap (Huntap) Bumi Semeru Damai (BSD) di Desa Sumbermujur, Candipuro, tidak menyediakan akses pekerjaan.

Sukar, seorang petani, mengatakan bahwa ia nekat kembali ke rumah lama karena memiliki lahan pertanian seluas seperempat hektar yang biasanya ditanami cabai. Meski panennya tidak setiap hari, hasil pertanian cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anaknya.

“Di BSD mau makan apa? Tidak ada pekerjaan, malah harus jual barang-barang,” kata Sukar, Kamis (4/12/2025).

Ahmad, warga lain, mengungkapkan hal serupa. Ia menilai biaya transportasi bolak-balik dari BSD ke Pronojiwo lebih besar dibandingkan pendapatan sebagai petani. Selain itu, risiko hujan dan banjir saat bepergian membuatnya khawatir.
“Kalau bolak-balik jauh, apalagi kalau hujan atau banjir, malah buat yang di rumah kepikiran,” ujarnya.

Meski pemerintah telah menyediakan lebih dari 1.900 unit rumah huntap lengkap dengan perabotan, fasilitas fisik itu tidak mampu menahan warga untuk kembali ke zona merah yang mereka anggap lebih layak untuk bertani.

Sampai masa tanggap darurat berakhir, tercatat 319 jiwa masih berada di posko pengungsian, sementara belum ada kepastian berapa banyak yang sudah menempati huntap BSD atau belum.

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jabatan Kosong Tak Perlu Menunggu, Bunda Indah Dorong Pengisian Bertahap

18 September 2026 - 08:50 WIB

Dapat Amanah Baru, Bunda Indah Minta ASN Lumajang Tak Berhenti Belajar

18 September 2026 - 08:48 WIB

Bukan Sekadar Studi Banding, Bunda Indah Dorong ASN Lumajang Berani Meniru Inovasi yang Lebih Baik

18 September 2026 - 08:46 WIB

Bukan Cuma Hiburan, Bunda Indah Ingin Ponsel Jadi Jendela Pengetahuan di Ruang Publik Lumajang

18 September 2026 - 08:44 WIB

Bunda Indah Soroti Potensi Kebocoran Pendapatan, Minta Pemkab Lumajang Perkuat Sistem Digital

18 September 2026 - 08:41 WIB

Bunda Indah Bekali Pejabat Lumajang: Hadapi Masalah Satu per Satu, Jangan Takut Cari Solusi

18 September 2026 - 08:39 WIB

Trending di Daerah