Alih Fungsi Lahan 1200 Hektar di Lumajang: Kerusakan Lingkungan dan Ancaman Krisis Sosial yang Terabaikan - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

Daerah · 23 Mei 2025 19:49 WIB ·

Alih Fungsi Lahan 1200 Hektar di Lumajang: Kerusakan Lingkungan dan Ancaman Krisis Sosial yang Terabaikan


 Alih Fungsi Lahan 1200 Hektar di Lumajang: Kerusakan Lingkungan dan Ancaman Krisis Sosial yang Terabaikan Perbesar

Lumajang, – Alih fungsi lahan Hak Guna Usaha (HGU) seluas 1.200 hektar milik PT Kalijeruk Baru (KJB) di Dusun Kalibanter, Desa Kalipenggung, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, memicu keprihatinan mendalam dari warga setempat.

Penebangan besar-besaran tanaman keras seperti karet, kakao, dan kopi yang selama puluhan tahun menjadi penyangga ekosistem kini digantikan oleh perkebunan tebu yang disewakan kepada pihak ketiga. Praktik ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Alih fungsi lahan yang dilakukan PT KJB ini diduga tidak sesuai dengan izin yang diberikan. Warga menilai perubahan drastis dari tanaman keras yang ramah lingkungan menjadi tanaman tebu yang lebih merusak adalah bentuk penyimpangan yang harus segera diusut tuntas.

Ahmad Sidik, perwakilan warga Dusun Kalibanter, menegaskan bahwa warga tidak menuntut pengambilalihan lahan, melainkan pengelolaan yang sesuai dengan peruntukan awal yang telah disetujui, yakni tanaman keras yang berkelanjutan dan menjaga keseimbangan alam.

“Kami tidak ingin lahan kami berubah menjadi lahan tebu yang hanya menguntungkan segelintir pihak dan merusak lingkungan. Sekarang sudah musnah. Untuk luasnya 1.200 hektar secara ijinnya,” tegas Ahmad Sidik dalam Rapat Kerja Gabungan Lintas Komisi DPRD Lumajang yang digelar tertutup, Jumat (23/5/25).

Kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan ini sudah nyata dan memprihatinkan. Solihin, warga setempat, mengungkapkan bahwa pada bulan puasa lalu, banjir besar melanda Desa Kalipenggung, merendam rumah-rumah warga dan menyebabkan kerugian materi yang signifikan.

“Banjir ini bukanlah bencana alam biasa, melainkan konsekuensi logis dari hilangnya tutupan tanaman keras yang berfungsi sebagai penahan air dan pengikat tanah di wilayah berbukit tersebut,” jelasnya.

Ketua DPRD Lumajang, Oktafiani, menyatakan bahwa Komisi C DPRD telah melakukan inspeksi lapangan dan menemukan banyak kejanggalan serta kerugian besar yang dialami masyarakat akibat alih fungsi lahan ini. “Kami sudah memanggil PT Kalijeruk Baru untuk memberikan klarifikasi terkait pengaduan ini, namun perusahaan belum hadir. Audiensi dijadwalkan pada 2 Juni nanti,” jelasnya.

Ketidakhadiran PT KJB dalam forum resmi DPRD menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen perusahaan terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan. DPRD menegaskan akan terus mengawal kasus ini agar hak-hak masyarakat dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Artikel ini telah dibaca 192 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kekeringan Lumajang Berlanjut, BPBD Ajukan Tanggap Darurat Tambahan 65 Hari

5 Oktober 2026 - 14:11 WIB

Cabai Rawit Rp75 Ribu per Kilogram, Petani Dapat Harga Tinggi Konsumen Hadapi Beban

5 Oktober 2026 - 12:41 WIB

Polsek Lumajang Kota Perkuat Layanan 110, Permudah Masyarakat Mendapatkan Bantuan Polisi

5 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Lahan Makin Kering, Hasil Pisang Lumajang Turun hingga 40 Persen

4 Oktober 2026 - 08:01 WIB

1.974 Pengajuan Santunan Kematian di Lumajang, Mengapa 286 Masih Diproses?

2 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Terakhir Terlihat di Sekitar Makam, Warga Yosowilangun Diduga Tenggelam di Sungai Bondoyudo

1 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Trending di Daerah