Lumajang, – Keluarga pasien yang meninggal di RSUD dr Haryoto Lumajang membantah penjelasan pihak rumah sakit mengenai respons perawat saat kondisi pasien memburuk.
Keluarga mengatakan mereka telah melaporkan pasien mengalami batuk disertai lendir darah, namun diminta menunggu.
Samsul Arifin, keluarga pasien, mengatakan ibunya datang ke RSUD dr Haryoto pada Kamis, 6 Agustus 2026 dengan keluhan pusing. Ia mengatakan ibunya sebelumnya tidak pernah mengalami batuk darah.
Saat ditangani di Instalasi Gawat Darurat (IGD), tekanan darah pasien disebut berada di angka 80/98. Setelah mendapatkan penanganan dokter, tekanan darah pasien kemudian kembali normal menjadi sekitar 114.
Namun, kondisi pasien berubah setelah beberapa waktu berada di ruang perawatan. Samsul mengatakan ibunya mengalami batuk disertai keluarnya lendir darah.
“Di situ sekitar berapa menit di Ruang Melati, ibu saya itu batuk darah. Keluar lendir darah, bukan batuk muntah darah,” katanya, Senin (10/8/2026).
Samsul kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada perawat. Namun, menurut dia, perawat meminta keluarga menunggu karena pasien sebelumnya telah ditangani dokter di IGD.
“Abis itu saya laporan ke perawatnya. Sama perawat suruh nunggu, karena sudah ditangani dokter IGD katanya,” kata Samsul.
Tidak lama kemudian, kondisi pasien kembali memburuk. Setelah makan, pasien disebut mengalami sesak napas.
Keluarga kembali melaporkan kondisi tersebut kepada perawat. Dalam keadaan panik, mereka juga meminta agar pasien mendapatkan nebulizer atau terapi menggunakan alat uap.
“Karena keadaan panik mas, kami minta di-nebul, di-asap. Tapi sama perawatnya juga masih suruh nunggu,” ujar Samsul.
Menurut Samsul, keluarga tidak mempersoalkan apakah nebulizer merupakan tindakan yang tepat untuk kondisi ibunya.
Ia justru mempertanyakan mengapa tidak ada perawat yang datang untuk memeriksa pasien ketika keluarga melaporkan kondisi yang semakin memburuk.
“Kalau memang tindakan nebul itu bukan solusi mas, kenapa enggak perawatnya datang untuk periksa. Itu enggak ada perawatnya yang datang,” katanya.
Setelah itu, kondisi pasien semakin kritis. Samsul mengatakan ibunya muntah darah dan kemudian langsung mengalami penurunan kondisi.
“Terus setelah itu ibu saya muntah darah. Terus langsung tutup usia,” ujarnya.
Samsul mengatakan perawat baru datang setelah ibunya meninggal dunia.
Ia memperkirakan laporan pertama mengenai batuk darah disampaikan sekitar pukul 03.00 WIB. Menurut Samsul, hingga sekitar pukul 04.30 WIB tidak ada tindakan terhadap ibunya yang ia lihat.
“Pokoknya dari saya laporan pertama itu jam 3. Datangnya itu sampai jam setengah 5 itu, sampai sekarang enggak ada tindakan,” katanya.
“Artinya petugasnya datang itu ibu sudah meninggal. Meninggal, sudah meninggal,” ujar Samsul.
Samsul juga membantah jika ibunya sejak awal datang ke rumah sakit dalam kondisi sangat lemah. Ia mengatakan keluhan awal hanya pusing dan pasien masih mampu berjalan.
“Kondisi pas ke rumah sakit itu cuma pusing,” kata dia.
Setelah mendapatkan infus, pasien masih bisa berjalan sendiri ke kamar mandi. Menurut Samsul, penurunan kondisi terjadi secara drastis setelah ibunya muntah darah.
“Baru pas muntah darah itu langsung drop,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, RSUD dr Haryoto Bantah Tudingan Tak Menangani Pasien, Polemik Respons Darurat Masih Bergulir
Diberitakan sebelumnya, RSUD dr Haryoto Lumajang membenarkan pasien yang menjadi sorotan dalam unggahan viral di media sosial Facebook meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Namun, manajemen menolak anggapan bahwa pasien tidak memperoleh penanganan medis sebagaimana dikeluhkan pihak keluarga.
Kasus itu mencuat setelah akun Facebook Samsul Arifin mengunggah kronologi meninggalnya sang ibu pada Kamis dini hari, 6 Agustus 2026.
Direktur RSUD dr Haryoto Lumajang, dr. Wawan Arwijanto, membenarkan pasien dalam unggahan viral tersebut memang dirawat dan meninggal di rumah sakit.
“Kami tidak bisa mengendalikan viral atau tidaknya suatu kejadian. Yang kami lakukan di sini sudah semaksimal mungkin dan seoptimal mungkin,” katanya, Jumat (7/8/2026).
Ia mengatakan RSUD dr Haryoto merupakan rumah sakit rujukan di Kabupaten Lumajang sehingga sebagian besar pasien yang ditangani merupakan kasus dengan kondisi berat.
Menurut dia, tenaga medis hanya dapat memberikan pelayanan sesuai standar dan kondisi klinis pasien, sedangkan hasil akhir pengobatan tidak sepenuhnya dapat dipastikan.
Wawan juga membenarkan fakta bahwa pasien meninggal dunia di Ruang Melati. Namun, ia menilai penilaian mengenai pelayanan rumah sakit bergantung pada sudut pandang masing-masing.
“Itu tergantung cara pandang masing-masing. Ada dokter jaga 24 jam, bahkan dua orang dokter. Perawat juga tersedia di masing-masing ruangan. Dokter penanggung jawab pasien melakukan kontrol sesuai bidang spesialisasinya,” kata dia.
Tinggalkan Balasan