Bermodal kesadaran dan kreativitas, Pemuda Lumajang temukan nilai ekonomi dari limbah MBG - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Bisnis · 5 Okt 2025 13:49 WIB ·

Bermodal kesadaran dan kreativitas, Pemuda Lumajang temukan nilai ekonomi dari limbah MBG


 Bermodal kesadaran dan kreativitas, Pemuda Lumajang temukan nilai ekonomi dari limbah MBG Perbesar

Lumajang, – Apa yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sampah, justru dijadikan peluang usaha oleh pemuda-pemuda kreatif di Lumajang. Limbah makanan dari Program Makan Bergizi (MBG) kini tak lagi sekadar sisa dapur, tapi diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti eco enzyme, pupuk cair, hingga pakan magot.

Gerakan ini digagas oleh komunitas Rumah Muda Berdaya, yang dipimpin oleh Asriafi Ath Thaariq. Ia melihat celah besar dalam pengelolaan limbah makanan yang belum optimal, terutama dari dapur-dapur umum MBG.

“Banyak yang belum sadar bahwa limbah makanan itu bisa diubah jadi produk ramah lingkungan yang laku dijual,” ujarnya, Minggu (5/10/2025).

Baca juga: Kasus Santri Minum HCL Dibahas Kemenag dan DPRD Lumajang

Menurut Asriafi, eco enzyme bukan hanya cairan pembersih. Ia juga bisa dimanfaatkan sebagai disinfektan alami, sabun organik, pupuk, bahkan pakan magot untuk keperluan pertanian. Nilai ekonominya cukup menjanjikan, dan yang lebih penting, mudah dibuat dan ramah lingkungan.

“Modalnya cuma sisa makanan, gula merah, dan air. Tapi kalau dikelola dengan serius, hasilnya bisa jadi sumber pendapatan,” jelasnya.

Salah satu contoh datang dari Dzaki Fahruddin, seorang petani muda dari Yosowilangun. Ia memanfaatkan limbah dapur MBG di SPPG untuk diolah menjadi eco enzyme dan pupuk cair.

Baca juga: Capaian Pajak Reklame Jember Tertinggal, DPRD Siapkan Langkah Penertiban dan Revisi Regulasi

“Awalnya iseng, tapi ternyata hasilnya bagus dan berguna di kebun. Sekarang mulai coba kemas dan pasarkan,” kata Dzaki.

Proses pembuatannya sederhana: sisa makanan dicacah, lalu difermentasi bersama gula merah dan air selama kurang lebih tiga bulan. “Hasilnya adalah cairan multiguna yang bisa dijual, digunakan sendiri, atau dibagikan ke petani lain,” ungkapnya.

Bukan hanya Dzaki, pemuda lain seperti Siti Aisyah juga mulai tertarik. Ia mengolah limbah MBG menjadi pupuk cair organik untuk pertanian kecilnya. Rifqi Hidayat, pemuda lainnya, menuturkan bahwa proses ini mengajarkannya disiplin dan tanggung jawab lingkungan.

“Ini bukan cuma bisnis. Kita belajar sabar, konsisten, dan peduli. Karena apa yang kita buat berdampak langsung ke lingkungan sekitar,” tutur Rifqi.

Kini, inisiatif pengolahan limbah MBG tidak hanya menghasilkan produk siap jual, tetapi juga membentuk komunitas pemuda peduli lingkungan. Mereka rutin berdiskusi, berbagi pengalaman, dan menyusun strategi pemasaran bersama.

Artikel ini telah dibaca 36 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Gitar Tak Lagi Sekadar Alat Musik, Sentuhan Seni Bung Tiok Jadi Buruan Kolektor Dunia

3 Mei 2026 - 07:49 WIB

Berawal dari Botol Bekas, Arif Kini Panen 7 Kuintal Selada Setiap 40 Hari

23 April 2026 - 07:43 WIB

Halal Bihalal Kadin Lumajang–Sidoarjo, Pertanyakan Minimnya Kekompakan Pengusaha Lokal

11 April 2026 - 16:54 WIB

Tak Bisa Sajikan Teh Hangat, Pedagang Bakso di Lumajang Kehilangan Pelanggannya

10 April 2026 - 11:10 WIB

Produsen Tempe Lumajang Hadapi Dilema, Jaga Kualitas atau Tekan Biaya

8 April 2026 - 11:46 WIB

Kambing Melimpah, Harga Jatuh, Dampak Peralihan Usaha Peternak Pasca PMK

7 April 2026 - 10:30 WIB

Trending di Bisnis