Desa Purworejo: Mengubah Limbah Organik Jadi Emas Hitam untuk Peternak dan Lingkungan - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Ekonomi · 28 Mei 2025 15:30 WIB ·

Desa Purworejo: Mengubah Limbah Organik Jadi Emas Hitam untuk Peternak dan Lingkungan


 Desa Purworejo: Mengubah Limbah Organik Jadi Emas Hitam untuk Peternak dan Lingkungan Perbesar

Lumajang, – Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang kian kompleks, Desa Purworejo, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, tampil sebagai pelopor inovasi pengolahan sampah organik yang tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga memberi nilai ekonomi nyata bagi masyarakatnya.

Dengan mengubah limbah daun dan sampah basah menjadi magot – larva lalat tentara hitam yang kaya protein desa ini membuktikan bahwa sampah bisa menjadi sumber berkah dan peluang usaha.

Selama ini, tumpukan sampah organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lempeni menjadi masalah serius yang mengancam kebersihan dan kesehatan lingkungan. Namun, Desa Purworejo mengambil langkah berbeda dengan memanfaatkan sampah organik sebagai bahan baku utama produksi magot.

“Alih-alih membuang begitu saja, kami olah sampah organik menjadi magot dan pupuk organik. Residu yang tersisa baru kami buang ke TPA, sehingga volume sampah yang masuk ke sana berkurang drastis,” kata Kepala Desa Purworejo, Mokhamad Nyono, Rabu (28/5/25).

Magot yang dihasilkan menjadi sumber pakan alternatif yang sangat dibutuhkan oleh peternak ayam petelur dan lele di desa tersebut. Kandungan protein tinggi pada magot membuatnya menjadi pilihan ekonomis dan sehat untuk meningkatkan produktivitas ternak.

“Kerja sama antara pengelola sampah dan peternak ini menciptakan siklus ekonomi yang saling menguntungkan. Sampah yang dulu dianggap limbah kini menjadi komoditas bernilai,” tambah Nyono.

Keberhasilan program ini juga didukung oleh sistem pengumpulan sampah yang terorganisir. Setiap hari, petugas mengambil sampah dari perumahan, rumah warga, area pertokoan, hingga pasar tradisional.

Sampah plastik dan non-organik dipisahkan untuk dijual kembali, sementara sampah organik langsung diolah menjadi magot dan pupuk.

“Kami saat ini menjaring sampah dari Desa Purworejo dan Desa Karanganom, dengan dukungan penuh dari kepala desa setempat. Rencana kami ke depan adalah memperluas pengumpulan ke desa-desa tetangga dan pasar lain agar dampak positifnya makin luas,” ujar Nyono.

Program ini juga menjadi sumber penghasilan bagi warga desa. Saat ini, empat orang warga dipekerjakan secara langsung untuk mengelola pengumpulan dan pemilahan sampah. Dua bertugas sebagai driver pengangkut sampah, dan dua lainnya fokus pada pemilahan organik dan non-organik.

“Selain menjaga lingkungan, kami juga ingin memberdayakan masyarakat dengan membuka lapangan kerja. Dengan perluasan program, kami berharap bisa merekrut lebih banyak tenaga kerja lokal,” jelasnya.

Untuk diketahui, magot yang diproduksi dijual dengan harga kompetitif, sekitar Rp20.000 per kilogram, sehingga terjangkau bagi peternak lokal. Selain itu, pupuk organik hasil olahan juga diminati petani sebagai alternatif pupuk kimia yang lebih ramah lingkungan.

Artikel ini telah dibaca 73 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gekrafs Dilantik, Harapan Dilambungkan: Mampukah Kreativitas Menjadi Mesin Ekonomi Baru Lumajang?

4 Mei 2026 - 15:51 WIB

HIPMI Lumajang Dorong Peran Pengusaha Muda sebagai Motor Ekonomi Daerah

3 Mei 2026 - 14:05 WIB

Inkubasi hingga Business Matching, Strategi HIPMI Lumajang Akselerasi Ekonomi Daerah

30 April 2026 - 23:26 WIB

HIPMI Lumajang Tancap Gas Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

30 April 2026 - 23:16 WIB

Lewat RKPD 2027, Pemkab Lumajang Perkuat Iklim Investasi dan Infrastruktur

22 Maret 2026 - 10:45 WIB

Krisis Keteladanan? ASN dan Perangkat Desa Diminta Lunasi Pajak di Tengah Tunggakan Rp 6,19 Miliar

3 Maret 2026 - 09:26 WIB

Trending di Ekonomi