Lumajang, – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang mencatat capaian pengendalian diabetes melitus sebesar 18,36 persen pada Semester I 2026. Angka tersebut melampaui target yang ditetapkan sebesar 17,5 persen.
Namun, di balik capaian itu, masih terdapat pekerjaan rumah yang tidak kecil. Jika angka tersebut dibaca secara proporsional, 81,64 persen dari sasaran indikator belum masuk kategori diabetes terkendali.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Lumajang, dr. Marshall Trihandono, dalam Pertemuan Penguatan Tatalaksana Nonfarmakologis Program Hipertensi dan Diabetes Melitus, Rabu (12/8/2026).
Mashall mengatakan capaian tersebut perlu dipertahankan dan terus ditingkatkan.
“Capaian ini menjadi modal positif yang harus kita pertahankan dan tingkatkan. Pengendalian diabetes membutuhkan kepatuhan pasien, dukungan keluarga, serta pendampingan dari tenaga kesehatan secara berkelanjutan,” katanya, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, pengendalian diabetes tidak hanya berorientasi pada pemberian obat. Perubahan perilaku menjadi bagian penting agar pasien mampu menjaga kondisi kesehatannya dalam jangka panjang.
Karena itu, pemerintah memperkuat tatalaksana nonfarmakologis melalui edukasi mengenai pola makan seimbang, aktivitas fisik, istirahat yang cukup, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.
“Pasien perlu kita dorong agar mampu mengelola penyakitnya secara mandiri. Bukan hanya mengetahui bahwa dirinya menderita diabetes, tetapi memahami apa yang harus dilakukan agar kondisinya tetap terkendali,” katanya.
Persoalan tersebut membuat capaian 18,36 persen perlu dibaca lebih jauh. Keberhasilan melewati target 17,5 persen merupakan capaian positif, tetapi belum menjadi alasan untuk mengendurkan intervensi.
Bahkan, Marshall mengatakan pengendalian diabetes tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar turut menentukan kemampuan pasien menjalankan pola hidup sehat dan mematuhi anjuran pengobatan.
“Dengan sinergi antara tenaga kesehatan, TP PKK, kader, keluarga, masyarakat dan lintas sektor, kita berharap semakin banyak penderita hipertensi dan diabetes melitus yang mampu mengendalikan penyakitnya,” ujarnya.
Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan cakupan tersebut secara berkelanjutan. Semakin banyak pasien yang mampu mengendalikan penyakitnya, semakin besar peluang pemerintah menekan risiko komplikasi dan menjaga produktivitas masyarakat.
“Semakin baik penyakit dikendalikan, semakin besar peluang masyarakat untuk tetap produktif dan menjalani kehidupan yang sehat. Karena itu, pengendalian hipertensi dan diabetes melitus harus menjadi gerakan bersama,” kata Marshall.
Tinggalkan Balasan