Karnaval, Tradisi, dan Dentuman: Dilema Budaya di Tengah Desa - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Nasional · 18 Jul 2025 16:06 WIB ·

Karnaval, Tradisi, dan Dentuman: Dilema Budaya di Tengah Desa


 Karnaval, Tradisi, dan Dentuman: Dilema Budaya di Tengah Desa Perbesar

Lumajang, – Suara dentuman musik remix menggema di antara deretan rumah warga Desa Candipuro, Kecamatan Candipuro.

Ratusan warga berjejer di pinggir jalan, menanti iring-iringan karnaval yang menjadi hiburan tahunan paling dinanti. Di tengah perdebatan soal sound horeg, banyak warga justru melihatnya sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi desa.

“Saya tunggu satu tahun untuk ini. Anak-anak senang, saya pun merasa hidup lagi. Karnaval bukan sekadar hiburan. Ini tradisi, ini kebanggaan desa,” kata Linda (36), warga setempat, Jumat (18/7/25).

Baca juga: Data Bansos Tak Akurat, Bupati Jember Gandeng Mahasiswa KKN

Karnaval dengan iringan sound system berdaya besar dikenal warga sebagai sound horeg telah menjadi simbol kemeriahan dan perayaan di banyak desa di Lumajang, khususnya sejak pandemi berakhir.

Tiap kelompok pemuda berlomba tampil seunik mungkin: dari kostum kreatif hingga kendaraan hias, semua berpadu dengan irama koplo dan remix yang memekakkan telinga.

Baca juga: Menanti Instruksi Gubernur, MUI Lumajang Minta Kepala Daerah Kompak Soal Sound Horeg

Bagi sebagian warga, seperti Santo (43), dentuman bukan gangguan, melainkan penanda bahwa desa sedang bersuka cita.

“Kalau nggak ada suara keras, rasanya nggak meriah. Ini momen kami menikmati hidup bareng-bareng,” ujarnya.

Namun, tidak semua menyambut hangat tradisi ini. Sejumlah warga, terutama orang tua dan pemilik bayi, mulai merasa terganggu. Suara yang terlalu keras bahkan membuat genteng rumah bergetar dan anak-anak kesulitan belajar.

Baca juga: Hadapi Transisi SD ke SMP, MPLS Surabaya Bantu Siswa Baru Beradaptasi Secara Menyeluruh

“Saya nggak anti hiburan. Tapi jangan dari jam 2 siang sampai malam terus. Anak saya mau tidur susah, belajar juga nggak fokus,” keluh Bu Murni (50), warga lainnya.

Di tengah semarak budaya ini, muncul suara lain dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lumajang yang mengeluarkan Fatwa Nomor 1 Tahun 2025, menyerukan pelarangan penggunaan sound horeg.

Mereka menyebut penggunaan volume ekstrem sebagai bentuk kemudaratan yang bisa mengganggu ibadah dan ketertiban umum.

Ketua MUI Lumajang, KH. Achmad Hanif, menjelaskan bahwa saat ini fatwa masih dalam tahap diskusi terbuka dan belum mengikat.

“Kita minta agar daerah menyikapinya secara proporsional. Ini masih dibicarakan,” ujarnya usai bertemu dengan Bupati Lumajang, Kamis (17/7/25).

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lonjakan Wisman saat Lebaran, Lumajang Ungguli Surabaya dan Malang

24 April 2026 - 08:49 WIB

Kuota Pendakian Semeru Dibatasi 200 Orang per Hari, Wajib Booking Online

22 April 2026 - 18:00 WIB

Rp450 Ribu per Jam, Warga Lumajang Sewa Alat Berat dari Iuran Sendiri Untuk Perbaiki Tanggul Jebol

22 April 2026 - 12:55 WIB

Di Bawah Langit Semeru, Peternak Menjaga Alam, dan Alam Menjaga Susu Kambing Senduro

19 April 2026 - 14:42 WIB

Semeru Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Capai 900 Meter

16 April 2026 - 15:10 WIB

Pasar yang Retak, Ketika Gula Rafinasi Mengalir Diam-Diam di Nadi Ekonomi Petani

15 April 2026 - 15:16 WIB

Trending di Nasional