Petani Boreng Rugi Besar Akibat Wereng: Sudah Disemprot, Tetap Gagal - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Daerah · 11 Jul 2025 15:16 WIB ·

Petani Boreng Rugi Besar Akibat Wereng: Sudah Disemprot, Tetap Gagal


 Petani Boreng Rugi Besar Akibat Wereng: Sudah Disemprot, Tetap Gagal Perbesar

Lumajang, – Serangan hama Wereng Batang Coklat (WBC) terus memukul petani di sejumlah desa di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Salah satunya dialami Munawati, petani asal Desa Boreng, Kecamatan Lumajang, yang mengaku mengalami kerugian besar akibat gagal panen meski sudah melakukan upaya pengendalian secara mandiri.

“Rugi banget kalau sudah begini. Tanaman saya gagal tumbuh sempurna. Sudah disemprot, tetap saja kena,” kata Munawati dengan nada kecewa, Jumat (11/7/25).

Baca juga: Lumajang Tak Aman: Mobil Dinas BBWS dan Motor Pegawai Kejaksaan Dicuri, Polisi Intensifkan Penyelidikan

Menurutnya, serangan wereng mulai dirasakan sejak Mei lalu, tepat ketika tanaman padi memasuki fase generatif, yaitu saat tanaman membentuk malai dan mulai mengisi bulir. Pada fase ini, wereng menyerang dengan menghisap cairan tanaman, menyebabkan pertumbuhan terganggu hingga tanaman mengering dan mati sebelum panen.

Upaya penyemprotan yang dilakukan Munawati secara mandiri tidak mampu membendung laju serangan hama. “Saya sudah semprot dua kali, bahkan pakai obat yang katanya ampuh, tapi tetap mati. Satu petak sawah habis semua,” ujarnya.

Fenomena ini menggambarkan keterbatasan petani jika harus menghadapi hama secara sendiri-sendiri. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Lumajang, Ishkak Subagyo, menegaskan pentingnya tindakan kolektif melalui Gerakan Pengendalian Hama Terpadu (Gerdal) yang dilakukan serentak antarpetani dalam satu hamparan.

Baca juga: Diskominfo Lumajang Respons Cepat Regulasi Baru Pranata Humas, Tata Ulang Formasi Berbasis Kebutuhan

“Jika tidak dilakukan secara bersamaan, hama akan terus bermigrasi ke lahan yang belum disemprot. Apalagi saat cuaca lembap dan suhu hangat, perkembangan wereng sangat cepat,” ujar Ishkak.

HKTI juga menyoroti minimnya pengamatan rutin oleh sebagian petani, yang menyebabkan keterlambatan dalam deteksi awal serangan hama. Karena itu, pihaknya terus mendorong petani untuk tidak menunggu hingga parah, melainkan aktif melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan kelompok tani sekitar.

Di tengah serangan yang makin meluas, Pemerintah Kabupaten Lumajang turut mendorong petani untuk mengikuti program Asuransi Usahatani Tanaman Padi (AUTP). Skema ini memungkinkan petani mendapatkan ganti rugi hingga Rp6 juta per hektare apabila gagal panen akibat hama, bencana alam, atau penyakit, selama tingkat kerusakan mencapai minimal 70 persen.

Tahun ini, Pemkab mengalokasikan dana Rp36 juta dari APBD untuk membayar 80 persen premi bagi 1.000 hektare lahan. Petani hanya perlu menanggung 20 persen sisanya, atau sekitar Rp36 ribu per hektare.

“Pemerintah hadir agar petani tidak sendirian saat panen gagal. Asuransi ini adalah bentuk perlindungan yang seharusnya dimanfaatkan,” ujar Analis Prasarana dan Sarana Pertanian DKPP Lumajang, Sukarno Mukti.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Siswi MTsN Jadi Korban Peluru Nyasar

4 Februari 2026 - 21:35 WIB

Jenazah Korban Banjir Bandang Ditemukan Nelayan di Muara Sungai

4 Februari 2026 - 16:33 WIB

Puluhan Warga Antre Adopsi Bayi yang Dibuang di Lumajang

4 Februari 2026 - 15:50 WIB

Bidan Ceritakan Detik-Detik Kelahiran Bayi yang Dibuang di Lumajang

4 Februari 2026 - 15:40 WIB

Ekonomi Diduga Jadi Alasan Bayi Dibuang di Lumajang

4 Februari 2026 - 15:31 WIB

Bayi Laki-laki Diperkirakan Berusia Dua Hari Ditemukan di Warung Gorengan Senduro

4 Februari 2026 - 10:30 WIB

Trending di Daerah