Lumajang, – Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino 2026 mendorong Pemerintah Kabupaten Lumajang memperkuat langkah antisipasi, termasuk mencari sumber air alternatif di sejumlah wilayah yang diperkirakan terdampak.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, sedikitnya tujuh kecamatan diproyeksikan mengalami krisis air bersih pada musim kemarau mendatang.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Ranuyoso, Klakah, Kedungjajang, Gucialit, Senduro, Padang, dan Tempeh.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi, mengatakan pemerintah daerah saat ini tidak hanya melakukan pemetaan wilayah rawan, tetapi juga mulai menyiapkan skenario penanganan untuk mengantisipasi dampak kekeringan.
“Selain pemetaan wilayah, kami juga akan berkoordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memperkuat suplai air bersih,” katanya, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, koordinasi dengan PDAM menjadi penting untuk memastikan distribusi air tetap berjalan, terutama di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan sumber air alami. Pemerintah daerah juga mulai mengkaji potensi sumber air alternatif guna mengurangi ketergantungan pada sumber yang ada.
Menurut Yudhi, berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Pada periode tersebut, potensi krisis air bersih diperkirakan meningkat, terutama di wilayah Lumajang bagian utara.
“Selain kekurangan air bersih, kondisi ini juga berpotensi memicu kebakaran hutan,” kata dia.
Ia menambahkan, wilayah seperti Klakah, Ranuyoso, dan Gucialit selama ini kerap mengalami kekurangan air bersih saat musim kemarau panjang.
Tinggalkan Balasan