Kayutangan Heritage Bikin Wisatawan Betah, Okupansi Hotel Malang Stabil di 70 Persen - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

Pariwisata · 2 Feb 2026 09:10 WIB ·

Kayutangan Heritage Bikin Wisatawan Betah, Okupansi Hotel Malang Stabil di 70 Persen


 Kayutangan Heritage Bikin Wisatawan Betah, Okupansi Hotel Malang Stabil di 70 Persen Perbesar

Malang, – Sektor pariwisata Kota Malang terus menunjukkan tren positif seiring berkembangnya destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya.

Salah satu yang memberi dampak nyata adalah Kayutangan Heritage, kawasan bernuansa kolonial yang kini menjadi ikon wisata baru sekaligus penopang stabilitas industri perhotelan di kota ini.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, menyebut tingkat okupansi hotel di Kota Malang sepanjang 2024 hingga 2025 berada pada kisaran 60 hingga 70 persen. Angka tersebut dinilai cukup baik dan mencerminkan kondisi industri perhotelan yang stabil.

“Okupansi rata-rata berada di angka 60 sampai 70 persen. Ini kondisi yang bagus dan relatif stabil bagi industri perhotelan di Kota Malang,” katanya, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan, geliat pariwisata dalam kota menjadi salah satu faktor penting yang menjaga tingkat hunian hotel. Kehadiran Kayutangan Heritage mampu mengubah pola kunjungan wisatawan yang sebelumnya cenderung hanya singgah atau lebih banyak beraktivitas di luar Kota Malang, seperti Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Pada tahun 2026, industri perhotelan Kota Malang juga diprediksi semakin semarak dengan hadirnya sejumlah hotel baru. Namun, Agoes menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak dianggap sebagai ancaman oleh pelaku usaha perhotelan.

“Dengan adanya hotel-hotel baru, justru menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan daya saing,” ucap dia.

Lebih lanjut, Agoes mengungkapkan bahwa Kayutangan Heritage memberikan kontribusi langsung terhadap rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di Kota Malang yang kini tercatat mencapai 1,48 hari. Banyak wisatawan yang sebelumnya hanya menginap singkat, kini memilih menambah masa tinggal mereka.

“Wisatawan sering menambah satu malam. Setelah agenda utama selesai, mereka ingin menikmati suasana Kayutangan Heritage sebelum pulang,” ungkapnya.

Menurut Agoes, Kayutangan Heritage kerap menjadi tujuan wisata pada hari terakhir masa inap. Aktivitas di kawasan tersebut, terutama pada sore hingga malam hari, menghadirkan suasana yang khas dan menjadi pengalaman penutup liburan yang berkesan.

“Biasanya malam terakhir dimanfaatkan untuk jalan-jalan ke Kayutangan. Besok paginya baru kembali ke kota asal,” tambahnya.

Meski demikian, Agoes mengingatkan bahwa meningkatnya kunjungan wisatawan harus diimbangi dengan kualitas pelayanan, kenyamanan, dan keamanan kawasan. Ia berharap masyarakat sekitar dan pengelola destinasi terus menjaga citra positif Kayutangan Heritage sebagai kawasan wisata sejarah.

“Nilai sejarahnya sudah kuat. Tinggal bagaimana kenyamanan, keamanan, dan keramahan terus dijaga. Itu kunci agar wisatawan mau datang kembali,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Di Kaki Gunung Semeru, Sumber Telu Menyimpan Cerita Air, Salak, dan Tradisi Warga

13 September 2026 - 10:12 WIB

Kapas Biru di Mata Wisatawan China: Ketika Alam Menjadi Daya Tarik Utama

11 September 2026 - 10:29 WIB

Bupati Lumajang: Jangan Ngaku Orang Indonesia Kalau Belum ke Tumpak Sewu

20 Agustus 2026 - 20:46 WIB

Sedekah Desa hingga Agrowisata, Bukit Jenggolo Mulai Dilirik Wisatawan Luar Daerah

16 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Sedekah Desa Wonokerto Dikemas Jadi Tape Fest, Pemdes Bidik Event Tahunan di Bukit Jenggolo

16 Agustus 2026 - 19:02 WIB

Sedekah Desa Wonokerto Lumajang Hadirkan Jaran Kencak hingga Bantengan dan 5.000 Porsi Tape Ketan

16 Agustus 2026 - 16:07 WIB

Trending di Pariwisata