Lumajang, – Di sudut sebuah toko pakaian di Plaza Lumajang, Hanafi (53) tampak duduk sambil menatap layar ponselnya, Senin (16/3/2026).
Jemarinya sesekali menggulir layar, menyaksikan para penjual pakaian memasarkan baju Lebaran melalui siaran langsung di aplikasi TikTok.
Di layar kecil itu, para penjual terlihat luwes menawarkan gamis dan kemeja koko kepada ribuan penonton yang menonton secara daring. Sementara di hadapan Hanafi, tumpukan pakaian serupa tersusun rapi di etalase tokonya, tetap kaku dalam lipatan, belum tersentuh pembeli.
Suasana kontras itu menjadi gambaran perubahan cara masyarakat berbelanja. Jika dulu warga dari berbagai kecamatan datang langsung untuk memilih pakaian, kini banyak yang lebih memilih membeli melalui toko online.
“Sekarang itu banyak online. Orang di desa-desa juga banyak yang jualan baju, jadi yang datang ke sini sedikit,” kata Hanafi.
Perempuan paruh baya asal Madura itu sudah hampir 30 tahun berdagang pakaian di Plaza Lumajang. Selama puluhan tahun, menjelang Lebaran merupakan masa paling ramai bagi para pedagang. Dua pekan sebelum Idul Fitri, koridor plaza biasanya dipenuhi pengunjung yang berburu baju baru.
Namun kondisi itu kini berubah drastis. Lima hari menjelang Lebaran tahun ini, suasana pusat perbelanjaan tersebut justru tampak lengang.
Menurut Hanafi, perubahan mulai terasa sejak pandemi COVID-19. Saat itu, banyak orang beralih ke belanja daring. Kebiasaan itu ternyata terus berlanjut hingga sekarang.
“Mulai sepi itu kena COVID-19. Setelah itu sampai sekarang, tambah tahun tambah sepi. Tahun ini paling parah,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus perdagangan digital, tidak semua pedagang mampu beradaptasi dengan cepat. Hanafi mengaku kesulitan memasarkan barangnya melalui media sosial seperti yang dilakukan para penjual muda.
Ia merasa tidak cukup mahir menggunakan teknologi, apalagi harus berbicara lancar di depan kamera untuk menarik perhatian pembeli.
Meski demikian, Hanafi tetap membuka tokonya setiap hari. Baginya, berdagang bukan sekadar soal mengikuti tren, tetapi juga tentang bertahan hidup dari usaha yang telah ia jalani puluhan tahun.
“Ya sekarang kalau dibilang rugi ya tidak. Allah tidak tidur. Sehari masih ada saja yang beli satu atau dua orang, disyukuri saja,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan