Lumajang, – Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang Agus Triyono meminta pelaksanaan Jenggolo Tape Fest di Desa Wonokerto, Kecamatan Gucialit, tidak berhenti sebagai festival tahunan biasa.
“Saya menantang panitia membuat gelaran 2027 lebih besar dan mampu mengenalkan produk lokal kepada masyarakat luar daerah hingga wisatawan mancanegara,” katanya, Minggu (16/8/2026).
Agus menyampaikan tantangan tersebut saat menghadiri rangkaian Sedekah Desa Wonokerto dan Jenggolo Tape Fest 2026 di Bukit Jenggolo. Ia menilai kegiatan tahun ini merupakan langkah awal yang masih perlu dikembangkan.
Menurutnya, Jenggolo Tape Fest 2026 merupakan kegiatan pertama sejak Bukit Cinggolo dikembangkan sebagai kawasan agrowisata. Karena itu, pelaksanaan tahun berikutnya perlu dikemas lebih matang.
“Ini baru kegiatan pertama, baru kegiatan pertama di tahun pertama Bukit Jenggolo. Untuk festival yang kedua nanti di tahun depan, barangkali bisa dimusyawarahkan,” kata Agus.
Salah satu usul Agus adalah melibatkan masyarakat sejak jauh hari melalui mekanisme gotong royong.
Ia bahkan menyarankan warga menyisihkan uang Rp2.000 setiap hari untuk mendukung pelaksanaan festival berikutnya.
“Setiap warga mulai besok naruh uang dua ribuan di depan rumahnya, kemudian nanti dikumpulkan. Saya yakin tahun depan lebih meriah daripada sekarang,” ujarnya.
Agus juga menyamlaikan, penggunaan nama Jenggolo Tape Fest. Menurut dia, nama Bukit Jenggolo sudah cukup dikenal, tetapi produk tape ketan yang menjadi identitas festival masih perlu diperkenalkan lebih luas.
“Jenggolo sudah mendunia, fest-nya mendunia, tapenya yang tidak mendunia,” kata Agus
Karena itu, ia menantang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan generasi muda untuk mencari konsep maupun tagline yang lebih menarik agar tape ketan Wonokerto dapat memiliki daya jual dan daya kenal lebih luas.
“Saya mengusulkan agar festival tahun depan memiliki ikon khusus berupa tumpeng tapes,” katanya.
Sebab, keberadaan simbol tersebut dapat memperkuat identitas festival dan tradisi Sedekah Desa Wonokerto.
Selain konsep, Agus meminta panitia menyusun alur acara yang lebih kuat. Ia berharap kegiatan tidak berakhir antiklimaks karena hiburan atau pertunjukan justru menjadi bagian akhir yang tidak memiliki keterkaitan dengan puncak tradisi.
“Seremonialnya di awal, kemudian puncaknya berbagi hasil bumi di Wonokerto. Jadi rangkaian kegiatan dalam festival Sedekah Desa itu dari awal sampai akhir nilainya meningkat terus,” tuturnya.
Agus berharap konsep tersebut dapat diterapkan dalam Jenggolo Tape Fest 2027. Ia juga berharap keterlibatan perangkat daerah dan masyarakat semakin besar pada pelaksanaan tahun berikutnya.
“Mudah-mudahan Jenggolo Tape Fest 2027 bisa diwujudkan dan mudah-mudahan saya bersama teman-teman OPD yang lain bisa hadir di sini dengan jumlah yang lebih besar,” kata Agus.
Diberitakan Sebelumnya, sedekah Desa Wonokerto, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dikemas berbeda tahun ini.
Tradisi warga dipadukan dengan bukit jenggolo Tape Fest 2026 yang menghadirkan berbagai kesenian tradisional dan membagikan 5.000 porsi tape ketan secara gratis.
Puncak kegiatan digelar di kawasan Bukit Jenggolo, Desa Wonokerto, Sabtu (15/8/ 2026).
Ribuan warga yang hadir juga berebut hasil bumi yang disedekahkan dalam rangkaian tradisi tersebut.
Kepala Desa Wonokerto Tupin mengatakan rangkaian Sedekah Desa telah dimulai pada Jumat, 14 Agustus 2026, dengan kegiatan khotmil Quran yang digelar di 21 titik di Desa Wonokerto.
“Untuk sedekah desa, masyarakat Wonokerto bersedekah dengan menghadirkan sanak saudaranya. Mereka juga bersedekah dengan memberikan hidangan dan apa pun yang bisa diberikan kepada saudara dan keluarga,” katanya.
Tinggalkan Balasan