Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, ada tradisi sederhana yang tetap mampu mempertemukan warga.
Namanya Barikan.
Tradisi ini tidak membutuhkan kemewahan. Warga cukup berkumpul, duduk bersama, berbagi, dan memanjatkan doa.
Namun, di balik kesederhanaannya, Barikan menyimpan nilai kebersamaan yang kuat.
Nilai tersebut terlihat dalam tradisi Barikan warga RW 7 Kelurahan Ditotrunan, Kecamatan Lumajang, menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Minggu (16/8/2026).
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Barikan Jadi Ruang Warga untuk Berkumpul
Bagi warga RW 7, Barikan bukan sekadar kegiatan menjelang peringatan kemerdekaan.
Sebaliknya, tradisi tersebut menjadi ruang untuk bertemu dan mempererat hubungan antarwarga.
Warga duduk bersama. Mereka juga memanjatkan doa untuk kebaikan bersama.
Dengan cara sederhana itu, hubungan antarwarga tetap terjaga.
Bunda Indah mengatakan tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat perlu terus dirawat.
Menurutnya, Barikan mengajarkan pentingnya kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Barikan ini adalah budaya yang harus terus kita pertahankan. Sekaligus menjadi momentum untuk berdoa bersama demi kebaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Bunda Indah.
Selain itu, Bunda Indah mengapresiasi warga RW 7 yang terus menjaga kerukunan dan gotong royong.
“Terima kasih telah senantiasa menjaga kerukunan, gotong royong, serta kondusivitas di lingkungan sekitar,” tambahnya.
Dari Tumpeng, Tumbuh Semangat Kebersamaan
Ketua RW 7 Kelurahan Ditotrunan, Rubiyo, menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga.
Menurutnya, kekompakan masyarakat menjadi kunci agar tradisi Barikan tetap hidup.
Karena itu, keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam menjaga kegiatan tersebut.
Rangkaian Barikan kemudian ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Lumajang.
Setelah itu, Bunda Indah menyerahkan potongan tumpeng kepada sejumlah tokoh masyarakat.
Momen sederhana tersebut sekaligus menjadi simbol kebersamaan.
Lebih dari sekadar makanan, tumpeng menjadi pengikat warga dalam satu ruang dan satu tujuan.
Sementara itu, tradisi Barikan menunjukkan bahwa menjaga kerukunan tidak selalu membutuhkan kegiatan besar.
Cukup dengan berkumpul, saling menghargai, berbagi, dan mendoakan kebaikan bersama.
Gotong Royong Bisa Dimulai dari Lingkungan Terkecil
Nilai yang terkandung dalam tradisi Barikan Lumajang tetap relevan di tengah kehidupan masyarakat saat ini.
Setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Namun, ruang untuk bertemu dengan tetangga tetap penting.
Melalui pertemuan sederhana, warga dapat saling mengenal dan menjaga hubungan baik.
Selain itu, kebersamaan juga dapat memperkuat kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Karena itu, Barikan bukan hanya tentang menjaga tradisi.
Tradisi tersebut juga menjadi cara sederhana untuk merawat kehidupan sosial yang harmonis.
Terlebih menjelang peringatan kemerdekaan, Barikan kembali mengingatkan masyarakat tentang pentingnya gotong royong.
Semangat tersebut tidak hanya hidup dalam sejarah perjuangan bangsa.
Sebaliknya, gotong royong dapat terus tumbuh dari lingkungan paling kecil.
Dimulai dari keluarga, kemudian berkembang ke lingkungan tetangga, hingga masyarakat yang lebih luas.
Pada akhirnya, Barikan mengajarkan bahwa kebersamaan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Cukup berkumpul, berbagi, berdoa, dan saling peduli. Dari hal sederhana itulah, kerukunan dapat terus tumbuh dan gotong royong tetap hidup.
Tinggalkan Balasan