Keluarga Pasien RSUD Haryoto: Perawat Baru Datang Setelah Ibu Kami Meninggal - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

Daerah · 10 Agu 2026 08:29 WIB ·

Keluarga Pasien RSUD Haryoto: Perawat Baru Datang Setelah Ibu Kami Meninggal


 Keluarga Pasien RSUD Haryoto: Perawat Baru Datang Setelah Ibu Kami Meninggal Perbesar

Lumajang, – Keluarga pasien yang meninggal di RSUD dr Haryoto Lumajang membantah pernyataan Direktur RSUD dr Haryoto, dr. Wawan Arwijanto, mengenai respons perawat saat pasien mengalami batuk darah dan sesak napas.

Samsul Arifin, anak pasien, mengatakan ibunya sempat mendapatkan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah datang ke rumah sakit pada Kamis, 6 Agustus 2026. Saat berada di IGD, tekanan darah ibunya disebut berada di angka 80/98.

“Terus ditangani di IGD, tekanan darahnya cuma 80/98. Setelah ditangani sama dokter IGD, kondisi tekanan darahnya normal lagi, jadi 114,” kata Samsul, Senin (10/8/2026).

Setelah menunggu kamar, sekitar pukul 03.00 WIB pasien dipindahkan ke Ruang Melati.

Menurut Samsul, kondisi ibunya saat itu masih cukup kuat. Bahkan, sebelum kondisinya memburuk, pasien disebut masih mampu berjalan sendiri ke kamar mandi.

Namun, tidak lama setelah berada di Ruang Melati, pasien mengalami batuk yang disertai keluarnya lendir darah.

“Di situ sekitar berapa menit di Ruang Melati, ibu saya itu batuk darah. Keluar lendir darah, bukan batuk muntah darah,” katanya.

Ia kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada perawat. Menurut Samsul, perawat meminta keluarga menunggu karena pasien sebelumnya sudah mendapatkan penanganan dokter di IGD.

“Abis itu saya laporan ke perawatnya. Sama perawat disuruh nunggu, karena sudah ditangani dokter IGD katanya,” kata dia.

Kondisi pasien kemudian kembali memburuk setelah makan. Samsul mengatakan ibunya mengalami sesak napas. Keluarga kembali melaporkan kondisi tersebut kepada perawat.

Dalam keadaan panik, keluarga meminta agar pasien mendapatkan tindakan nebulizer atau terapi dengan alat uap.

“Karena keadaan panik, kami minta di-nebul, di-asap. Tapi sama perawatnya juga masih suruh nunggu,” ujarnya.

Menurut dia, persoalannya bukan semata-mata apakah nebulizer merupakan tindakan yang tepat untuk kondisi ibunya. Ia mempertanyakan mengapa saat kondisi pasien memburuk tidak ada perawat yang datang untuk memeriksa secara langsung.

“Kalau memang tindakan nebul itu bukan solusi, kenapa enggak perawatnya datang untuk periksa. Itu enggak ada perawatnya yang datang,” katanya.

Tak lama kemudian, kondisi pasien semakin kritis. Samsul mengatakan ibunya muntah darah dan langsung mengalami penurunan kondisi.

“Terus setelah itu ibu saya muntah darah. Terus langsung tutup usia,” ujar Samsul.

Menurut Samsul, perawat baru datang setelah ibunya meninggal.

Artikel ini telah dibaca 104 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lahan Makin Kering, Hasil Pisang Lumajang Turun hingga 40 Persen

4 Oktober 2026 - 08:01 WIB

1.974 Pengajuan Santunan Kematian di Lumajang, Mengapa 286 Masih Diproses?

2 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Terakhir Terlihat di Sekitar Makam, Warga Yosowilangun Diduga Tenggelam di Sungai Bondoyudo

1 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Dari 864.599 Rekam Dinamis KTP, Baru 44.975 Warga Lumajang Gunakan IKD

30 September 2026 - 12:05 WIB

1.600 Pengajuan Santunan Kematian di Lumajang, Berapa yang Lolos Verifikasi?

30 September 2026 - 11:50 WIB

Perbaikan Jalan Lumajang Mencapai Rp60 Miliar, Kok Bisa?

30 September 2026 - 08:41 WIB

Trending di Daerah