Lumajang, – Kematian seorang pasien di RSUD dr Haryoto Lumajang memicu sorotan terhadap pelayanan tenaga kesehatan.
Keluhan keluarga pasien yang diunggah melalui Facebook berkembang menjadi perbincangan di media sosial setelah sejumlah warganet ikut membagikan pengalaman mereka.
Pemilik akun Facebook Samsul Arifin menyebut ibunya masuk RSUD dr Haryoto pada Kamis dini hari, 6 Agustus 2026, sekitar pukul 01.00 WIB.
Karena ruang perawatan penuh, pasien ditempatkan di ruang standar berkapasitas tiga tempat tidur.
Menurut Samsul, ibunya sempat menjalani penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena tekanan darah rendah.
Setelah mendapatkan cairan infus, tekanan darah pasien disebut kembali normal dan kemudian dipindahkan ke Ruang Melati.
Namun, kondisi pasien berubah setelah berada di ruang perawatan. Samsul menulis ibunya mengalami batuk disertai darah. Ia mengaku telah melaporkan kondisi tersebut kepada perawat, tetapi diminta menunggu.
Keluhan itu kemudian memunculkan berbagai komentar di akun TikTok Lensawarta.com. Sejumlah warganet membagikan pengalaman pribadi mereka ketika keluarga menjalani perawatan di RSUD dr Haryoto.
Akun @FATIR, misalnya, menceritakan pengalaman ayahnya pada 2019. Ia mengaku ayahnya mengalami kejang setelah meminum obat ketika kondisinya disebut mulai membaik.
Sementara akun @fianrian mengaku pernah membawa mertuanya ke RSUD dr Haryoto setelah mendapat rujukan. Ia menyoroti lamanya waktu menunggu di IGD hingga keluarganya mempertimbangkan untuk pindah rumah sakit.
Kesaksian lain datang dari akun @November. Ia mengaku ibunya meninggal di rumah sakit tersebut setelah infus habis dan disebut tidak segera diganti meski telah beberapa kali dilaporkan kepada perawat.
Akun @Ciicii🍂 juga mengaku pernah mengalami persoalan saat ayahnya dirawat. Ia menyebut sempat terjadi perdebatan dengan dokter mengenai penanganan ICU.
Namun, pengalaman para pengguna media sosial tersebut merupakan kesaksian pribadi dan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya kesalahan pelayanan dalam kasus pasien Samsul.
Direktur RSUD dr Haryoto Lumajang, dr. Wawan Arwijanto, memberikan penjelasan berbeda mengenai kejadian tersebut.
Wawan membantah anggapan bahwa perawat terlambat memberikan penanganan. Menurut dia, ketika pasien tiba-tiba mengalami batuk darah, perawat langsung datang dan memberikan pertolongan.
“Perawat sudah datang, sudah memberikan pertolongan saat itu juga pada saat ada keluhan dari pasien. Hanya hasilnya tidak seperti yang diharapkan,” kata Wawan, Kamis (7/8/2026).
Menurut Wawan, pelayanan kesehatan tidak selalu berakhir sesuai harapan. Tindakan medis, kata dia, dapat diberikan, tetapi hasil akhirnya tidak selalu dapat menyelamatkan pasien.
Wawan menyebut pasien sejak awal datang dengan kondisi lemas setelah mengalami sakit kepala serta mual dan muntah di rumah.
“Soal keberadaan dokter, kami memastikan dokter jaga tersedia selama 24 jam,” jelasnya.
Tinggalkan Balasan