Kopi Senduro: Aroma Warisan dari Lereng Semeru - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Daerah · 11 Jul 2025 09:30 WIB ·

Kopi Senduro: Aroma Warisan dari Lereng Semeru


 Kopi Senduro: Aroma Warisan dari Lereng Semeru Perbesar

Saat embun pagi masih menggantung di pucuk daun, suara gemericik air pegunungan menyapa Desa Senduro di lereng Gunung Semeru. Desa ini tak hanya menjadi pintu masuk ke puncak tertinggi Pulau Jawa, tapi juga rumah bagi kopi berkualitas tinggi yang tumbuh dari tanah vulkanik penuh mineral.

Di sepanjang lereng curam itu, para petani menanam kopi robusta dan arabika secara turun-temurun. Mereka memelihara kebun dengan kearifan lokal, memetik biji merah dengan tangan, dan menjemur hasil panen secara alami.

Salah satunya Rohman, petani berusia 47 tahun yang telah mengenal kopi sejak remaja. Ia mengawali hari dengan menyapa kebun dan memetik biji kopi yang matang sempurna.

“Kalau petik merah, rasanya beda. Wangi lebih kuat, pahitnya halus. Tapi ya itu, sekarang harganya turun,” ujar Rohman sambil memperlihatkan buah kopi segar.

Saat ini, harga kopi robusta petik merah hanya sekitar Rp70.000 per kilogram—turun dari Rp85.000 pada musim lalu. Sedangkan robusta biasa dihargai Rp60.000 per kilogram. Penurunan harga ini cukup mengkhawatirkan, apalagi bagi petani yang bergantung pada panen untuk biaya sekolah anak atau kebutuhan dapur harian.

Mamik Woroarjiati, Kepala Bidang Perkebunan DKPP Lumajang, mengakui tren harga tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa kopi Senduro tetap menjadi primadona karena kualitasnya.

“Arabika petik merah dari Senduro bisa menembus Rp90.000 per kilogram. Pasar menghargai rasa kompleks dan aroma khas yang hanya muncul dari proses panen yang tepat,” jelasnya, Selasa (8/7/2025).

Kopi Senduro bukan hanya soal rasa. Di balik tiap teguk, ada cerita ketekunan dan cinta dari para petani. Mereka memilah biji terbaik, menjemurnya perlahan di bawah matahari, lalu menyangrai dengan teknik warisan keluarga. Proses ini memerlukan kesabaran, tapi hasilnya sepadan.

Kini, tantangan terbesar bukan hanya cuaca atau harga, melainkan regenerasi. Banyak anak muda desa merantau ke kota. Tapi geliat industri kopi kekinian mulai menarik mereka pulang. Di Senduro, beberapa petani muda kini memproduksi kopi kemasan, drip bag, hingga cold brew. Mereka menjual produknya lewat media sosial dan menembus pasar luar daerah.

Pemerintah desa dan komunitas lokal pun ikut mendukung. Mereka mengembangkan wisata edukasi kopi. Wisatawan diajak ke kebun, memetik kopi, belajar proses roasting, lalu menyeduh kopi dengan latar pemandangan Semeru yang megah.

Kopi Senduro kini menjadi lebih dari komoditas. Ia menjelma pengalaman—tentang alam, manusia, dan warisan budaya. Bagi Rohman dan rekan-rekan petaninya, kopi adalah pengingat bahwa kerja keras selalu berbuah, meski butuh musim yang tepat.

Di setiap teguk kopi Senduro, kita merasakan ketulusan. Kita mencium aroma harapan. Dan dari kaki Gunung Semeru, biji-biji kecil itu terus membawa nama Lumajang ke dunia—dengan cara sederhana, tapi penuh kebanggaan.

Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Semarak HUT RI di Tunjung Lumajang, Warga Jalan Sehat dan UMKM Ikut Kecipratan

20 Agustus 2026 - 15:11 WIB

Agus Setiawan dan Ratih Damayanti Ajak Warga Jalan Santai, Doorprize Sepeda Listrik Menanti

20 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Truk Sound Horeg Terbakar Saat Karnaval di Lumajang, Peserta Tetap Lanjut

20 Agustus 2026 - 10:02 WIB

Perbaikan 27 Ambulans Desa Lumajang Habiskan Rp884,9 Juta, 9 Unit Masih Diperbaiki

19 Agustus 2026 - 12:08 WIB

Bukan Sekadar Adu Strategi! Kejurkab Catur Lumajang Jadi Jalan Lahirnya Bibit Atlet Muda

19 Agustus 2026 - 09:58 WIB

Tape Ketan Wonokerto Siap Mendunia? Jenggolo Tape Fest 2027 Didorong Lebih Besar

19 Agustus 2026 - 09:56 WIB

Trending di Daerah