Lumajang, – Unggahan akun Facebook Samsul Arifin yang mengeluhkan pelayanan RSUD dr Haryoto Lumajang memantik perhatian publik. Hingga Kamis, 6 Agustus 2026, unggahan tersebut telah mendapat 84 tanda suka, 85 komentar, dan satu kali dibagikan.
Dalam unggahannya, Samsul mengaku ibunya masuk ke RSUD dr Haryoto pada Kamis dini hari sekitar pukul 01.00 dini hari.
Karena ruang perawatan penuh, pasien ditempatkan di ruang standar berkapasitas tiga tempat tidur.
Ia menulis, setelah mendapatkan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena tekanan darah rendah, kondisi ibunya sempat membaik lalu dipindahkan ke Ruang Melati.
Namun, menurut pengakuannya, sesampainya di ruang rawat, ibunya mengalami batuk mengeluarkan darah, kemudian sesak napas hingga muntah darah.
Samsul mengaku telah meminta agar ibunya mendapatkan terapi asap (nebulizer), tetapi menurutnya diminta menunggu karena dokter belum berada di lokasi.
“Apakah dalam keadaan darurat perawat tidak bisa melakukan tindakan darurat?” tulis Samsul dalam unggahannya.
Unggahan tersebut kemudian memicu puluhan komentar dari pengguna Facebook. Sebagian mempertanyakan kecepatan respons tenaga kesehatan, sementara lainnya membagikan pengalaman pribadi ketika mendapatkan pelayanan kesehatan.
Akun Facebook Edy Kusnan menilai pelayanan rumah sakit terlalu bergantung pada keputusan dokter.
“RSU kebanyakan aturan main dan tak ada yang berani mengambil keputusan. Alasan umum, tunggu kabar dokter,” tulisnya.
Sementara akun Veean Chwe mengaitkan unggahan itu dengan kasus lain yang sebelumnya sempat viral. Ia berharap pengunggah tetap mendapat dukungan dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga pasien.
“Jadi keinget kasus viral baru-baru ini yang pasien enggak ditangani sampai delapan jam…. Turut berduka cita untuk ibunya. Semoga diberi ketabahan,” tulis dia dalam komentatnya.
Komentar lain datang dari akun MystikalFlamingo 2801. Ia menyampaikan pengalaman pribadinya saat anggota keluarganya menjalani perawatan di rumah sakit. Dalam komentarnya, ia juga menduga terdapat perbedaan pelayanan antara pasien BPJS dan pasien umum.
Klaim tersebut merupakan pengalaman pribadi yang disampaikan melalui media sosial dan belum terverifikasi.
Hal serupa disampaikan akun Nda. Ia mengaku pernah membawa ayahnya ke IGD menggunakan BPJS, namun disebut ditolak karena alasan kamar penuh.
Menurut pengakuannya, pasien kemudian dibawa ke rumah sakit lain dan langsung mendapatkan tindakan operasi hingga akhirnya sembuh.
Sementara akun Reed Blahen meminta manajemen melakukan evaluasi terhadap tenaga kesehatan yang bertugas. Ia juga mempertanyakan keberadaan dokter piket saat pasien membutuhkan penanganan.
Sementara itu, Kepala Bagian Umum dan Humas RSUD Dr. Haryoto Lumajang, Agus Wahyudi mengatakan kalau pihaknya sudah menjawab keluhan itu di Facebook.
“Sudah kami jawab di Facebook,” kata dia singkat.
Tinggalkan Balasan