Tape ketan Wonokerto punya peluang untuk dikenal lebih luas. Bahkan, produk lokal yang selama ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat tersebut didorong untuk menembus pasar yang lebih besar.
Peluang itu muncul melalui Jenggolo Tape Fest. Pelaksanaan tahun 2026 menjadi langkah awal untuk mengembangkan potensi Desa Wonokerto, termasuk tape ketan dan kawasan wisata Bukit Jenggolo.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang mendorong penyelenggaraan Jenggolo Tape Fest 2027 agar tampil lebih matang dan memiliki daya tarik yang lebih luas.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono, menyampaikan dorongan tersebut saat menghadiri Sedekah Desa Wonokerto dan Jenggolo Tape Fest 2026 di Bukit Jenggolo, Minggu (16/8/2026).
Jenggolo Tape Fest 2027 Ditargetkan Lebih Besar
Agus Triyono menilai pelaksanaan Jenggolo Tape Fest 2026 dapat menjadi bahan evaluasi.
Dengan demikian, panitia memiliki kesempatan untuk menyiapkan konsep yang lebih kuat pada tahun berikutnya.
“Saya menantang panitia membuat gelaran 2027 lebih besar dan mampu mengenalkan produk lokal kepada masyarakat luar daerah hingga wisatawan mancanegara,” kata Agus.
Menurutnya, pengembangan festival juga perlu melibatkan masyarakat sejak awal.
Dengan keterlibatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Mereka juga dapat menjadi bagian dari proses pengembangan festival dan produk lokal.
Selain itu, penyelenggara dapat memperkuat konsep acara secara bertahap. Harapannya, Jenggolo Tape Fest semakin memiliki identitas yang kuat.
Bukit Jenggolo Punya Potensi Jadi Agrowisata
Agus juga melihat potensi besar di kawasan Bukit Jenggolo.
Menurutnya, kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai destinasi agrowisata. Potensi alam tersebut dapat dipadukan dengan tradisi Sedekah Desa, kesenian, dan produk lokal.
“Jenggolo punya potensi besar untuk dikenal dunia. Festivalnya kita kuatkan, dan tape ketannya kita dorong menjadi produk unggulan yang mendunia,” ujarnya.
Karena itu, pengembangan Jenggolo tidak hanya berfokus pada festival.
Di sisi lain, produk lokal juga membutuhkan identitas yang kuat agar mudah dikenali masyarakat.
Agus mengusulkan ikon khusus berupa tumpeng tape untuk memperkuat karakter kegiatan.
Selain itu, ia mendorong generasi muda dan mahasiswa KKN ikut merancang branding serta tagline untuk tape ketan Wonokerto.
Keterlibatan generasi muda diharapkan dapat menghadirkan ide kreatif. Dengan begitu, produk tradisional tetap memiliki nilai budaya sekaligus tampil lebih menarik di era modern.
Dari Sedekah Desa, Tape Ketan Menuju Produk Unggulan
Agus berharap pengemasan festival dapat berkembang secara bertahap.
Setiap rangkaian kegiatan dapat memiliki nilai dan daya tarik yang semakin kuat. Namun, pengembangan tersebut tetap harus menjaga tradisi yang sudah tumbuh di masyarakat.
“Jadi rangkaian kegiatan dalam festival Sedekah Desa itu dari awal sampai akhir nilainya meningkat terus,” tuturnya.
Sementara itu, Jenggolo Tape Fest 2026 menghadirkan berbagai kesenian tradisional.
Selain itu, panitia membagikan 5.000 porsi tape ketan secara gratis kepada masyarakat.
Warga juga mengikuti tradisi berbagi hasil bumi di kawasan Bukit Jenggolo.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tape ketan bukan sekadar produk makanan.
Tape ketan juga menjadi bagian dari tradisi dan identitas masyarakat Desa Wonokerto.
Karena itu, pengembangan Jenggolo Tape Fest dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan budaya, wisata, dan produk lokal secara bersamaan.
Pada akhirnya, Jenggolo Tape Fest 2027 diharapkan tidak hanya menjadi festival tahunan.
Lebih dari itu, festival tersebut dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan Bukit Jenggolo dan tape ketan Wonokerto kepada masyarakat luar daerah hingga wisatawan mancanegara.
Dari tradisi desa, lahir produk lokal. Dari produk lokal, tumbuh potensi wisata. Dan dari Jenggolo, cerita tentang Wonokerto diharapkan bisa melangkah semakin jauh.
Tinggalkan Balasan