Puisi “Tiada Luka Abadi” Karya Rayyan Aulia R: Sebuah Karya Sastra yang Menggugat Ketidakadilan dan Keserakahan - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Pendidikan · 9 Jan 2024 18:17 WIB ·

Puisi “Tiada Luka Abadi” Karya Rayyan Aulia R: Sebuah Karya Sastra yang Menggugat Ketidakadilan dan Keserakahan


 Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta Perbesar

Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta

Tiada Luka Abadi
Karya : Rayyan Aulia R

Bukannya tak tenang
Namun dunia belum senang
Bagaimana bisa aku diam
Sementara adil kau bungkam

Gunung Semeru Erupsi Lagi, Luncurkan Abu Setinggi 2.000 Meter

Ini bukan tentang siapa
Bukan juga tentang mengapa
Ini tentang kita semua
Luka lama dendam nyata

Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta

Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta

Berpikirkah kau?
Kita sekarang merugi
Karena ego seorang
Nafsu liar itu buta
Didalamnya kau bertahta

Pj. Bupati Lumajang Mendorong Perencanaan Program Pasca Anggaran 2024 Selesai

Kami meringis ngeri
Dan kau kian menjadi
Luka akan menganga selamanya
Dalam dunia tak ada ujungnya
Luka ini abadi
sampai kau yang mengakhiri.

Senduro, 7 Januari 2024.

Prakiraan Cuaca Hari Ini, Wilayah Lumajang Kota

Puisi Tiada Luka Abadi karya Rayyan Aulia R menggambarkan perasaan penulis yang tidak puas dengan keadaan dunia yang penuh ketidakadilan dan keserakahan. Penulis merasa tidak bisa diam dan menuntut keadilan yang telah dibungkam oleh pihak yang berkuasa.

Penulis juga menyatakan bahwa ini bukan masalah pribadi, melainkan masalah bersama yang melibatkan banyak orang yang terluka dan dendam. Penulis mengecam ego dan nafsu liar dari orang yang berkuasa, yang membuat mereka buta dan sombong.

Presiden Joko Widodo Resmikan Jalan Tol Pamulang-Cinere-Raya Bogor, Investasi Rp 4 Triliun

Penulis merasakan penderitaan yang mendalam dan menyayangkan kerugian yang dialami oleh banyak orang. Penulis menganggap luka yang ditimbulkan oleh ketidakadilan dan keserakahan itu tidak akan pernah sembuh, kecuali orang yang berkuasa mengakhiri tindakannya.

Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta

Ilustrasi Photo AI Tim Lensa Warta

Berikut adalah arti dari bait perbait dari puisi tersebut:

Artikel ini telah dibaca 195 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menganyam Harmoni di Lereng Semeru, Keberagaman Budaya dan Adat di Kecamatan Senduro

26 Maret 2026 - 11:37 WIB

Ramadan Jadi Momentum Lahirnya Asrama Tahassus 600 Santri di Lumajang, Bupati Sebut Kebanggaan Daerah

6 Maret 2026 - 19:00 WIB

Sungai Regoyo Meluap, 37 Siswa SD di Dusun Sumberlangsep Terpaksa Ujian dari Rumah

5 Maret 2026 - 18:24 WIB

Menelusuri Masjid Tua Lumajang, Warisan Dakwah Ulama dan Jejak Sejarah Pasca Perang Jawa

5 Maret 2026 - 12:42 WIB

Durasi Jam Pelajaran Disesuaikan, Pembelajaran Ramadan di Surabaya Tetap Efektif

17 Februari 2026 - 11:57 WIB

Dari 5.655 Kini 1.700, Angka ATS Kota Malang Terus Menyusut

2 Februari 2026 - 09:20 WIB

Trending di Pendidikan