Lumajang, – Besarnya upah harian di sektor pertambangan menjadi salah satu faktor yang disoroti Bupati Lumajang Indah Amperawati terkait tingginya angka putus sekolah di Kabupaten Lumajang.
Anak-anak disebut tergiur memperoleh penghasilan sendiri hingga memilih bekerja daripada melanjutkan pendidikan.
Indah mengatakan, upah bekerja di tambang bisa mencapai Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per hari. Jika bekerja selama 30 hari, penghasilan yang diperoleh dapat mencapai Rp 4,5 juta hingga Rp 6 juta.
Menurut dia, besarnya pendapatan tersebut menjadi daya tarik bagi anak-anak, khususnya yang tinggal di wilayah sekitar pertambangan dan perkebunan.
“Kalau tambang itu kan dia upahnya sehari bisa Rp 150.000 sampai Rp 200.000, nah ini kan cukup menggiurkan untuk anak-anak sampai akhirnya lebih pilih kerja dibanding sekolah, apalagi dukungan dari orang tua kurang,” kata Indah, Jumat (23/10/2026).
Persoalan tersebut muncul di tengah angka putus sekolah di Lumajang yang mencapai 5.763 siswa selama 2025 hingga September 2026.
Rinciannya, sebanyak 3.999 siswa jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) putus sekolah pada 2025. Sementara itu, hingga September 2026, jumlahnya tercatat 1.764 siswa.
Indah menjelaskan, faktor ekonomi yang mendorong anak meninggalkan sekolah bukan hanya berkaitan dengan keterbatasan biaya pendidikan.
Keinginan untuk segera bekerja dan mendapatkan uang sendiri juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Pemerintah Kabupaten Lumajang, kata Indah, terus berupaya mengembalikan anak-anak yang putus sekolah agar kembali mengenyam pendidikan. Pada 2026, sebanyak 184 anak dilaporkan telah kembali bersekolah.
“Tahun ini untuk siswa yang kembali bersekolah ada 184 anak, dan ini kami terus berupaya agar anak-anak kembali bersekolah,” ujarnya.
Indah meminta seluruh elemen masyarakat ikut mengingatkan pentingnya pendidikan. Kata dia, dukungan orang tua dan lingkungan diperlukan agar anak tidak hanya mempertimbangkan penghasilan yang bisa diperoleh dalam jangka pendek.
Menurut dia, pendidikan tetap dibutuhkan untuk memperbaiki kualitas hidup anak pada masa mendatang.
“Ini yang harus kita kerjakan segera, toh mereka tidak akan jadi kuli tambang seterusnya, mereka butuh perbaikan kualitas hidup mereka,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan